Bupati Bone dari Masa ke Masa
- 04.28
- by
- Unknown
Nama-nama yang Menjabat Bupati Bone sejak tahun 1951 sampai sekarang adalah sbb:
- Abdul Rachman Daeng Mangung (Kepala Afdeling) Tahun 1951
- Andi Pangerang Daeng Rani (Kepala Afdeling/Kepala Daerah) Tahun 1951-1955
- Ma’mun Daeng Mattiro (Kepala Daerah) Tahun 1955-1957
- H. Andi Mappanyukki Sultan Ibrahim MatinroE ri Gowa (Kepala Daerah/Raja Bone) Tahun 1957 – 1960
- Andi Suradi (Bupati Kepala Daerah) Tahun 1960-1966
- Andi Djamuddin (Pejabat Bupati Kepala Daerah) Tahun 1966-1966
- Andi Tjatjo (yang menjalankan tugas Bupati Kepala Daerah) Tahun 1966-1967
- Andi Baso Amir (Bupati Kepala Daerah) Tahun 1967 – 1969
- H. Suaib (Bupati Kepala Daerah) Tahun 1969 – 1976
- H.P.B. Harahap (Bupati Kepala Daerah) Tahun 1976-1982
- H. Andi Madeali (Pejabat Bupati Kepala Daerah) Tahun 1982 – 1983
- Andi Syamsu Alam (Bupati Kepala Daerah) Tahun 1983-1988
- Andi Syamsoel Alam (Bupati Kepala Daerah) Tahun 1988-1993
- Andi Muhammad Amir (Bupati Kepala Daerah) Tahun 1993-1998 dan 1998-2003 ( Dua Periode)
- H. Andi Muh. Idris Galigo (Bupati Bone) Tahun 2003-2008 dan 2008-2013 ( Dua Periode )
- Dr. H.Andi.Fahsar Mahdin Padjalangi, M.Si. (Bupati Bone) Tahun 2013 Sampai Sekarang
Sejarah
mencatat bahwa Bone dahulu merupakan salah satu kerajaan besar di
nusantara pada masa lalu. Kerajaan Bone dalam catatan sejarah didirikan
oleh Raja Bone ke-1 yaitu ManurungngE Rimatajang pada tahun 1330,
mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Latenritatta Arung
Palakka Matinroe ri Bontoala, pertengahan abad ke-17. Kebesaran
kerajaan Bone tersebut dapat memberi pelajaran dan hikmah yang bagi
masyarakat Bone saat ini dalam rangka menjawab dinamika pembangunan dan
perubahan-perubahan sosial, perubahan ekonomi, pergeseran budaya serta
dalam menghadapi kecenderungan yang bersifat global.
Belajar
dan mengambil hikmah dari sejarah kerajaan Bone pada masa lalu minimal
terdapat tiga hal yang bersifat mendasar untuk diaktualisasikan dan
dihidupkan kembali karena memiliki persesuaian dengan kebutuhan
masyarakat Bone dalam upaya menata kehidupan ke arah yang lebih baik.
Ketiga hal yang dimaksud adalah :
Pertama, pelajaran
dan hikmah dalam bidang politik dan tata pemerintahan. Dalam
hubungannya dengan bidang ini, sistem kerajaan Bone pada masa lalu
sangat menjunjung tinggi kedaulatan rakyat atau dalam terminologi
politik modern dikenal dengan istilah demokrasi. Ini dibuktikan dengan
penerapan representasi kepentingan rakyat melalui lembaga perwakilan
mereka di dalam dewan adat yang disebut “Ade Pitue”,
yaitu tujuh orang pejabat adat yang bertindak sebagai penasihat raja.
Segala sesuatu yang terjadi dalam kerajaan dimusyawarahkan oleh Ade’
Pitue dan hasil keputusan musyawarah disampaikan kepada raja untuk
dilaksanakan.
Ade
Pitu merupakan lembaga pembantu utama pemerintahan Kerajaan Bone yang
bertugas mengawasi dan membantu pemerintahan kerajaan Bone yang terdiri
dari 7 (tujuh) orang yaitu :
1. ARUNG UJUNG
- Bertugas Mengepalai Urusan Penerangan Kerajaan Bone
2. ARUNG PONCENG
- Bertugas Mengepalai Urusan Kepolisian/Kejaksaan dan Pemerintahan
3. ARUNG TA
- Bertugas Bertugas Mengepalai Urusan Pendidikan dan Urusan Perkara Sipil
4. ARUNG TIBOJONG
- Bertugas Mengepalai Urusan Perkara / Pengadilan Landschap/ Hadat Besar dan Mengawasi Urusan Perkara Pengadilan Distrik
5. ARUNG TANETE RIATTANG
- Bertugas Mengepalai Memegang Kas Kerajaan, Mengatur Pajak dan Mengawasi Keuangan
6. ARUNG TANETE RIAWANG
- Bertugas Mengepalai Pekerjaan Negeri (Landsahap Werken – LW) Pajak Jalan Pengawas Opzichter.
7. ARUNG MACEGE
- Bertugas Mengepalai Pemerintahan Umum Dan Perekonomian.
Selain
itu di dalam penyelanggaraan pemerintahan sangat mengedepankan asas
kemanusiaan dan musyawarah. Prinsip ini berasal dari pesan
Kajaolaliddong seorang cerdik cendikia Bone yang hidup pada tahun
1507-1586 pada masa pemerintahan Raja Bone ke-7 Latenri Rawe
Bongkangnge. Kajao lalliddong berpesan kepada Raja bahwa terdapat empat
faktor yang membesarkan kerajaan yaitu:
- Seuwani, Temmatinroi matanna Arung Mangkau’E mitai munrinna gau’e (Mata Raja tak terpejam memikirkan akibat segala perbuatan).
- Maduanna, Maccapi Arung Mangkau’E duppai ada’ (Raja harus pintar menjawab kata-kata).
- Matellunna, Maccapi Arung MangkauE mpinru ada’ (Raja harus pintar membuat kata-kata atau jawaban).
- Maeppa’na, Tettakalupai surona mpawa ada tongeng (Duta tidak lupa menyampaikan kata-kata yang benar).
Pesan
Kajaolaliddong ini antara lain dapat diinterpretasikan ke dalam
pemaknaan yang mendalam bagi seorang raja betapa pentingnya perasaan,
pikiran dan kehendak rakyat dipahami dan disikapi.
Kedua,
yang menjadi pelajaran dan hikmah dari sejarah Bone terletak pada
pandangan yang meletakkan kerjasama dengan daerah lain, dan pendekatan
diplomasi sebagai bagian penting dari usaha membangun negeri agar
menjadi lebih baik. Urgensi terhadap pandangan seperti itu tampak jelas
ketika kita menelusuri puncak-puncak kejayaan Bone dimasa lalu. Dan
sebagai bentuk monumental dari pandangan ini di kenal dalam sejarah akan
perjanjian dan ikrar bersama kerajaan Bone, Wajo, dan Soppeng yang
melahirkan TELLUMPOCCOE atau dengan sebutan lain “LAMUMPATUE RI
TIMURUNG” yang dimaksudkan sebagai upaya mempererat tali persaudaraan
ketiga kerajaan untuk memperkuat posisi kerajaan dalam menghadapi
tantangan dari luar.
Ketiga,
warisan budaya kaya dengan pesan. Pesan kemanusiaan yang mencerminkan
kecerdasan manusia Bone pada masa lalu. Banyak hikmah yang bisa dipetik
dalam menghadapi kehidupan, dalam menjawab tantangan pembangunan dan
dalam menghadapi perubahan-perubahan yang semakin cepat. Namun yang
terpenting adalah bahwa semangat religiusitas orang Bone dapat menjawab
perkembangan zaman dengan segala bentuk perubahan dan dinamikanya.
Dalam
perkembangan selanjutnya, Bone kemudian berkembang terus dan pada
akhirnya menjadi suatu daerah yang memiliki wilayah yang luas, dan
dengan Undang-undang Nomor 29 Tahun 1959,
berkedudukan sebagai Daerah Tingkat II Bone yang merupakan bagian
integral dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kabupaten Bone
memiliki potensi besar,yang dapat dimanfaatkan bagi pembangunan demi
kemakmuran rakyat. Potensi itu cukup beragam seperti dalam bidang
pertanian, perkebunan, kelautan, pariwisata dan potensi lainnya.
Demikian
masyarakatnya dengan berbagai latar belakang pengalaman dan pendidikan
dapat dikembangkan dan dimanfaatkan untuk mendorong pelaksanaan
pembangunan Bone itu sendiri. Walaupun Bone memiliki warisan sejarah dan
budaya yang cukup memadai, potensi sumber daya alam serta dukungan SDM,
namun patut digaris bawahi jika saat ini dan untuk perkembangan ke
depan Bone akan berhadapan dengan berbagai perubahan dan tantangan
pembangunan yang cukup berat. Oleh karena itu diperlukan pemikiran,
gagasan, dan perencanaan yang tepat dalam mengorganisir warisan sejarah,
kekayaan budaya, dan potensi yang dimiliki ke dalam suatu pengelolaan
pemerintahan dan pembangunan. Dengan berpegang motto Sumange’ Tealara yakni
Teguh dalam Keyakinan Kukuh dalam Kebersamaan, pemerintah dan
masyarakat Bone akan mampu menghadapi segala tantangan menuju Bone yang
lebih baik
Sumber : www.telukbone.coi.id
Sumber : www.telukbone.coi.id

0 komentar:
Posting Komentar