Jejak Kota Tua Bone
- 14.14
- by
- Unknown
Sekitar abad 10 Masehi Bone hanya sebuah wilayah kecil di tepi Teluk
Bone. Awalnya hanya seluas 4 km persegi Letak sedikit lebih tinggi
dibanding daerah sekitar sehingga disebut Tanete. Namun Bone purba
berada dalam wilayah kerajaan Wewangriu Zaman Lagaligo.
Bone adalah nama bugis kuno yang berarti Pasir. Karena tanahnya
berpasir warna kekuning-kuningan. Sehingga Bone dahulu disebut Tanah
yang berpasir. Sebutan itu berakhir pada zaman Belanda tahun 1940-an.
KOTA KAWERANG
Ketika kerajaan Bone berdiri pada tahun 1330 M. Ada 7 wanua bergabung manjadi persekutuan yaitu :
1.Wanua Ponceng,
2. Wanua Taneteriattang,
3. Wanua Tanete Riawang,
4. Wanua Ta,
5. Wanua Macege,
6. Wanua Ujung, dan
7. WanuaTibojong.
Ketujuh wanua ini bersatu dalam panji WorongporongE. Bendera Bintang Tujuh menandakan tujuh negeri di bawah kepemimpinan Raja Bone pertama bergelar Matasi LompoE.(Penguasa/penjaga Laut dan tanah ).
Tetapi awal terbentuk kerajaan Bone ada beberapa wanua lain yang
tidak bergabung dan cukup disegani pada waktu itu seperti Biru, Cellu,
dan Majang. Sedang Bukaka atau Ciung kemungkinan masuk dalam wanua
Tanete Riawang. Kerajaan ini mulai membangun wilayahnya dengan ibukota
Kawerang. Berada dalam wanua Tanete Riattang di tepi sungai Bone.
Sungai yang ramai digunakan oleh penduduk Bone sebagai alur transportasi penting untuk menghubungkan wanua lain. Hulunya ada dua dekat Anrobiring di Palakka dan Pallengoreng sedang muaranya di Toro Teluk Bone.
Kota Kawerang sebagai pusat pemerintahan berasal dari nama tumbuhan
yang disebut Awerang yang banyak tumbuh disekitar sungai Bone.(Sekarang
terletak di jalan Manurunge Watampone.). Sejenis ilalang dan biasa
tumbuh pada tanah lembab dan berair. Tingginya kurang lebih dua meter.
Mempunyai bunga jambul putih. Karena dominan tumbuh di daerah
tersebut maka penduduk menyebut kampung Kawerang yang berasal dari kata
Engka-Awerang. Kemudian berubah sebutan menjadi Kawerang. Sama dengan
kampung-kampung lain seperti Kajuara karena Engka-Ajuara dan Kading
karena Engka-Ading. serta Palanga karena Engka-Lengnga.
Kota Kawerang inilah Istana Raja Bone Pertama ManurungE ri Matajang
berdiri. Istana menghadap sungai (letaknya sekarang diduga sekitar Jalan
raya dibelakang kantor Korem 141 Toddopuli). Dalam lontara dikatakan
bahwa istana itu berdiri dengan cepat sebelum bulisa’ nya mengering.
Bulisa’ adalah sisa kulit kayu yang masih basah. Bahkan di tempat ini
pulalah Tujuh Matoa bermusyawarah membentuk satu ikatan dalam
pemerintahan Bone. Sistem pemerintahan ini disebut juga kawerang sesuai
tempat musyawarah dilaksanakan.
Sistem Kawerang masing-masing matoa tetap menjadi penguasa di
wilayahnya dan sekaligus menjadi dewan pemerintahan kerajaan Bone. Dan
ini hanya berlangsung sampai Raja Bone ke-9 La Pattawe MatinroE Ri
Bettung (Bulukumba) kira-kira pada tahun 1569.
Kawerang sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Bone awalnya hanya
seluas sekitar sungai. Kemudian lambat laun berkembang seluruh wanua
Tanete Riattang termasuk wanua Tibojong di seberang sungai. Seiring
kemajuan kerajaan Bone batas wilayah wanua Tanete Riattang kira-kira
sekarang adalah batas Kantor Korem 141 tooddopuli membelok ke jalan
Thamrin sampai sungai dan jalan ManurungE.
Pada Pemerintahan Raja Bone pertama lebih memfokuskan pada pembuatan
aturan-aturan kemasyarakatan dan hukum ditegakkan. Juga menjalin
hubungan dengan Kerajaan-kerajaan tetangga yang besar dan lebih tua
seperti Kerajaan Awangpone, Pattiro, Palakka, dan Cina.
Sebagai politik Assiajingeng untuk meredam kembalinya zaman Sianre
Bale dan Permaisuri Raja Bone I adalah Manurunge Ri Toro mempunyai anak 4
orang yaitu La Umasa, I Pattanra wanua, We Tenri Salogo dan We Aratiga.
Kemudian anaknya bernama Laumasa menggantikan ayahnya sebagai Raja Bone
ke-2.
Pada zaman Raja Laumasa Raja Bone ke-2 berkuasa (1365-1398). Kota
kawerang berkembang, baik jumlah penduduk maupun pemukiman sehingga kota
meluas seluruh wilayah Tanete Riattang dan arah perkembangan kota mulai
begeser ke wanua Macege sebagai kampung industri pembuatan alat-alat
pertanian dan senjata, utamanya Parang Cege.
Parang Cege (bangkung Cege), adalah parang yang bentuknya lebar.
Macege berarti tempat pembuatan parang. Bahan baku besi didatangkan dari
Kelling dekat Lampoko. Raja Bone ke-2 La Umasa yang hobby dan ahli
dalam pembuatan alat senjata dari besi. Mendirikan Istana di wilayah
macege sehinggah ramai penduduk bermukim utamanya dekat kediaman baginda
di Lassonrong.
Disekitar sumur Lassonrong. Lassonrong berasal dari nama istana raja
La Umasa mempunyai beranda di belakang istana dan istana di kelilingi
gundukan tanah liat diatasnya pagar bambu yang runcing sebagai benteng.
Inilah yang disebut Sonrong. Lassonrong berarti istana yang mempunyai
beranda belakang dan pagar benteng. Di beranda belakang istana tempat
mallanro atau menempa besi milik Baginda.
Pada masa pemerintahan Baginda banyak melakukan pengembangan wilayah
baik dengan peperangan maupun dengan cara perkawinan. Baginda
menaklukkan wanua Biru di selatan , wanua Cellu di timur dan Wanua
Anrobiring dekat macege dan juga wanua Majang.
Tahun 1398 Raja La Umasa mangkat dan dimakamkan di jeppeE. Kampung
yang ditumbuhi pohon Jeppe. Pohonnya besar dan tinggi menjulang.
Sekarang wilayah itu sekitar jalan Ahmad Yani watampone.
Semasa hidupnya La umasa bergelar Petta Panre BessiE dan juga
bergelar Petta To Mulaiye Panreng (Yang pertama di makamkan) gelar
anumerta. Baginda La Umasa juga yang pertama bergelar Mangkau. Mengambil
tradisi leluhurnya ketika Bone purba sebagai kerajaan Wewangriu
bergelar Mangkau. La Umasa mempunyai anak dua bernama To Suwalle dan To
Salawakkang. Tetapi tidak menjadi Raja. Justru yang menggantikan La
Umasa adalah kemanakannya. Anak Raja Palakka bernama La Saliyu
Karempaluwa. Raja termudah dalam sejarah Kerajaan Bone.
LaSaliyu Karempalua sebagai Raja Bone ke 3 (1398-1470), dikisahkan,
penculikan dirinya ketika masih bayi usia baru beberapa hari atas
perintah Raja Bone La umasa untuk menggantikannya karena anak La Umasa
tidak memenuhi syarat menjadi Raja.
Lalu hasil musyawarah Matoa Pitu yang pantas menjadi Raja adalah anak
Raja Palakka La Pattikkeng sebab Ibunya adalah Saudara La Umasa anak
dari ManurungE Anak Pattola. Hanya antara Raja Palakka La Pattikkeng
dengan Raja Bone masih dalam pertikaian. Itulah sebabnya terjadi
penculikan yang dipimpin oleh To Suwalle dan To Salawakkang.
Kisahnya perjalanan pulang dari Palakka setelah menculik bayi
LaSaliyu oleh Sepupunya, anak dari Laumasa sempat beristirahat disuatu
telaga untuk memercikkan air dan membasuh muka bayi La Saliyu. Bayi itu
bergerak bangun (Cokkong) maka disebutlah sumur itu Lacokkong dan
kemudian menjadi tradisi turun temurun setiap anak Raja yang dilahirkan
wajib mandikan air Lacokkong. Selain itu, disebut Laccokkong, dahulu
sesudah La Ummasa Raja Bone Ke-2 daerah ini adalah daerah yang subur
untuk pertanian. Artinya siapapun yang ditempatkan di wilayah itu,
hidupnya akan makmur yang disebu Cokkong.
Masa pemerintahan Lasaliyu Kota Kawerang melebar ke Tanete Riawang.
Karena di tempat itu berdiri Pasar hadiah dari Ayah La Saliyu Raja
Palakka. Pasar tersebut sekarang menjadi Pusat pertokoan di dekat Tanah
BangkalaE sebagai Pusat kota Watampone. Dan Istana Raja Bone ke-3 La
Saliyu berdiri berdampingan dengan Pasar di depan istana dibuat alun
alun disebut Tanah BangkalaE.
Dahulu Tanah Bangkalae berfungsi sebagai tempat berkumpul masyarakat
mendengarkan informasi dari Raja atau Pejabat Istana. Kemudian akhirnya
menjadi tempat pelantikan Raja-Raja Bone yang dimulai dari Raja Bone ke-
4 We Banrigau. Tanah BangkalaE dijadikan pula pusat Bone. Possi Tanah.
Maka perkembangan kota Kawerang meluas mulai Wanua Tanteriatang, Macege
utamanya Lassonrong, Tibojong dan Wanua Taneteriawang disebut To
Kawerang, maksudnya orang kota. Adapun batas wanua Tante riawang
Termasuk taman bunga dan sampai batas Bukaka dan batas di laccokkong
sekarang.
Ketika Raja Bone Lasaliyu masih kanak-kanak, maka kedua sepupunya melaksanakan pemerintahan dengan tugas masing-masing:
To Suwalle bertugas mewakili Raja Bone urusan pemerintahan kedalam
sebagai Tomarilaleng kedalam sebagai Tomarilaleng I Kerajaaan Bone
To Salawakka bertugas mengatur urusan pemerintahan keluar dan ini merupakan MakkedangngE Tanah I dari Kerajaan Bone.
Dalam pelaksanaan sehari-hari keduanya dibantu oleh para Matoa dari
tujuh Wanua, setelah menanjak dewasa Raja Lasaliyu mengendalikan
pemerintahan, namun tetap dibantu oleh kedua kakak sepupunya. Pada saat
berangkat berperang atau kunjungan daerah (kerajaan palili) selalu
membawa bendera dan Panji WorongporongngE dan CellaE. Juga baginda
membagi Bone dalam tiga wilayah sesuai dengan pembagian bendera yaitu:
Bendera WorongporongE: mambawahi negeri Matajang, Mataangin
(Maroanging), Bukaka, Bukaka tengah (kampong tengngaE), Kawerang ,
Pallengoreng dan Mallayirang (Mallari) dikoordinasi oleh Matoa Matajang.
CellaE ri Atau yaitu yang memakai umbul merah di sebelah kanan dari
bendera WorongporoE dipergunakan oleh rakyat dari : Paccing, Tanete
(dekat Palenggoreng), Lemo-Lemo ( Desa Carebbu ), Masalle (dekat Melle),
Macege, dan Belawa (dekat Maccope). Dipimpin oleh To Suwalle digelar
Kajao Ciung.
CellaE ri Abeyo yaitu Negeri yang memakai umbul merah di sebelah kiri
dari WorongporoE: Araseng, Ujung, Ponceng, Ta’, Katumpi, Padacengnga
(desa Padaidi dekat Passippo) dan Madello (dekat desa Mico). Dipimpin
oleh To Salawakka digelar Kajao Araseng.
Dalam Lontara disebutkan bahwa Raja ini menaklukkan Negeri Pallengoreng (sebelah selatan Biru), Sinri (dekat Majang), Sancoreng (Ponre), Cerowali, Apala, Bakke Tanete(cina), Attang Salo(dekat Katumpi), Soga, Lampoko, Lemoape, Bulu(dekat Cerowali), Parippung, dan Lompu, Limampanuwa ri Lau-Ale. Dan pada masa itu Palakka disatukan dengan Kawerang. Juga beberapa wanua datang bergabung secara sukarela. Sehingga kerajaaan-kerajaan tua seperti Cina, Pattiro, Awangpone, Barebbo dan Palakka sudah bergabung dengan Bone.
Baginda membuat perkampungan disebelah utara Kawerang dekat sungai
Panyula dan Limpenno (muara sungai dekat Toro) sebagai tempat pelabuhan
bagi perahu-perahu kerajaan di tambatkan bersama tempat tinggal
pendayung dan petugas perahu Raja.
DARI KOTA KAWERANG MENJADI KOTA LALEBBATA.
Raja Bone ke-6 La Uliyo BoteE (1535-1560) adalah pendiri benteng kota
sekaligus peletak sistem perkotaan yang tangguh sebagai kota yang
mandiri dan modern pada zamannya. Baginda dikenal pandai cermat dalam
perencanaan. Pada masa berkuasa baginda didampingi seorang penasihat
terkenal Kajao Laliddong yang sering dijuluki Lamellong.
Kajao Laliddong yang dipercayakan mengarsiteki sekaligus pimpinan
proyek (pimpro) dalam pembangunan kolosal membangun benteng Kota.
Sehingga ada ungkapan ceritra rakyat Bone bahwa “Cicengmi narenreng
tekkenna Kajao Laliddong natepui bentengE”.
LALEBBATA KOTA BENTENG
Benteng atau dalam bahasa bugis Lalebbata ini dibuat dari tanah liat
diambil dari bukit bukaka. Benteng ini rata-rata tingginya 5 meter.
Tebal dinding atas kurang lebih 2 meter dan Tebal dinding bawah
(pondasi)15 meter. Sepanjang dinding luar benteng ditanami pohon bambu
dan berbagai jenis pohon berfungsi untuk menahan dan mengikat tanah
benteng.
Bahan Pembuatannya diambil dari sebagian tanah bukaka. Tapi dinding
benteng bagian utara dan timur di samping dari Tanah Liat juga diambil
dari tanah disekitar atau di dalam wilayah benteng untuk dijadikan
persawahan.
Tehnik pada pembangunan benteng tidak memakai alat perekat tetapi
teknik sederhana susun timbun yang mengikuti kontur tanah. Bukan terbuat
dari batu merah atau dinding dari batu gunung yang sudah dipahat. Walau
ada sebagian benteng memakai batu utamanya dibagian Pintu utama keluar.
Bentuk benteng Bone awalnya segi empat panjang. Kemudian Raja
berikutnya melakukan penambahan tinggi benteng dan dipertebal dinding
benteng oleh Raja Bone La tenrirawe. Hal inilah nama Kota Kawerang
berubah menjadi Lalebbata. Sesuai bentuk kota yang baru dengan adanya
benteng dan meluas hampir semua wilayah wanua pitu masuk dalam area
benteng.
Pada 1630 Raja La madderemmeng berkuasa mengalami pelebaran Benteng
sebelah Timur dan Utara dan menambah bastion-bastion dekat SalekoE.
Bentuk sudut benteng melingkar sebagai bastion dan dipasang
meriam-meriam besar. Apalagi suasana politik ketika itu memanas dengan
kebijakan Baginda penghapusan perbudakan. Model Benteng berubah dari
segi empat panjang menjadi trapesium. Selain ada pintu Utama Benteng
(Seppa Benteng) juga disetiap sisi benteng ada pintu-pintu untuk akses
masuk bagi penduduk. Benteng ini dibuat sebagai alat pertahanan juga
sebagai pusat pemerintahan. Oleh karena sumber kekuasaan berada di
istana maka peletakan benteng juga berperan untuk pertahanan pusat-pusat
hunian dan sumber daya yang ada disekitarnya.
JEJAK BENTENG
Jika menyelusuri Benteng dimulai dari sudut sebelah selatan kota,
benteng berdiri di atas jalan Kalimantan sekarang terus ke timur
melewati pinggir jalan Kawerang melalui persawahan dekat sungai Bone. Di
tempat itu berdiri bastion. Lalu ke timur lagi dekat jalan Pramuka
disebut Diattang Benteng. Kemudian membelok ke Utara dan di sudut
benteng itu terdapat Bubung LoppoE (sumur besar) digunakan untuk
persediaan air bagi prajurit Bone.
Ke utara benteng melalui persawahan dekat mesjid jalan Bajoe dan
disebut Seppa BentengE. Dan membelok ke arah barat di atas jalan, pada
sudut benteng membulat sebagai bastion tetapi ada pula pelebaran benteng
dekat Salekoe juga berdiri Bastion-bastion.
Diatas jalan menuju Bukaka membelok ke utara kira-kira 200 meter ke
arah barat menuju Bukaka dekat Bubung Lagarowang. Komplek kuburan
KalokkoE masuk dalam benteng. Disebut Awang Benteng dari Bukaka menuju
ke selatan antara jalan Makmur dengan jalan Benteng adalah bekas benteng
dan bertemu di jalan Kalimantan dekat Kantor Dinas Kesahatan.
Benteng-benteng ini hancur akibat peperangan utamanya dalam perang Bone
dengan Belanda. Pada tahun 1920-an benteng-benteng ini umumnya diambil
tanahnya dijadikan jalan raya, seperti bagian selatan kota Watampone
benteng itu dijadikan jalan Kalimantan sekarang dan begitupula Lapangan
Persibo ditimbun dari tanah benteng yang dahulu adalah persawahan.
WATAMPONE
Ibukota Lalebbata kerajaan Bone berakhir tahun 1905. Ketika Tentara
Belanda menaklukkan Bone dengan hasil musyawarah pada tanggal 24 Agustus
1905. Kota Lalebbata berubah menjadi Watampone pada musyawarah Ade Pitu
bersama Hindia Belanda di Bola SubbiE Istana Raja La Pawawoi Karaeng
Sigeri.
Istana kebanggaan Kerajaan Bone berukir dan besar menghadap Taman
Raja atau sekarang Taman Bunga. Kemudian Istana ini di pindahkan ke
Makassar dan berdiri di depan Karebosi sebagai tanda penaklukan Bone.
Dan kembali ke Bone pada tahun 1922 atas permintaan Rakyat Bone Tetapi
sayangnya Istana Bola SubbiE tidak utuh lagi.
Watampone yang berarti Pusatnya Bone. Zaman pemerintahan Hindia
Belanda Penataan Kota dibangun. Area kota ditata mulai Wilayah ekonomi,
Agama dan pendidikan, pemerintahan dan kalangan bangsawan. Jalan-jalan
dibuat, Pohon Asam dan Kenari ditanam di pinggir jalan. Taman ditata
seperti Koning Plein atau Taman Raja sekarang jadi Taman Bunga. Dan
bangunan bangunan berciri Kolonial didirikan. Istana Raja Bone dibangun
untuk menggantikan Istana Bola SubbiE menjadi Kantor Dewan Adat
Pitu(Perpustakaan Umum Daerah sekarang di Jalan Merdeka). Yang
dipersiapkan Raja Bone La Mappanyukki pada tahun 1930 (Meseum Lapawaoi
sekarang).
Bola Soba dipindahkan di jalan Veteran sebagai markas Marsose dan
dididrikan Rumah Pejabat Hindia Belanda dengan sebutan Tuan Petoro
Bottoa(Controler Residen). Dan Tangsi-tangsi militer dan juga Rumah
Sakit.
tahun 2016 Bone telah berusia 686 tahun tetapi jauh dari usia itu
Tanah Bone telah ada dengan penduduknya. Sudah tiga kali pergantian nama
Ibukota sejak tahun 1330 sampai sekarang . Tetapi penduduknya masih
tetap dan senang menyebut ibukotanya dengan sebutan Bone.
Kota Watampone telah menyimpan sejarah panjang dengan penduduknya
tetapi tidak memperlihatkan suatu kota sarat sejarah masa lalu apalagi
sebagai ibukota kerajaan Bugis terbesar. Oleh karen itu saatnya sekarang
bangunan-bangunan tua bersejarah dan situs-situs perlu dipertahankan
dan dilindungi sebagai identitas kota tua.
Jika sekarang mau bangun Bone mestinya atau paling tidak pelajari
dulu sejarahnya, agar yang dibangun itu bernilai edukatif yakni bisa
memberikan informasi dan pembelajaran kepada generasi.
(TELUK BONE)
Sumber : https://telukbone.id/2012/08/15/jejak-kota-tua-bone/
0 komentar:
Posting Komentar