Sejarah Kota Watampone
- 14.17
- by
- Unknown
Bone purba awalnya hanya seluas 4
kilometer persegi berada dalam wilayah kerajaan Wawenriu zaman Lagaligo
sekitar abad ke-10 (901-1000). Abad ke-10 adalah abad yang berlangsung
sejak 901 Masehi hingga 1000 Masehi.
Sedang kata Bone sendiri merupakan
bahasa Bugis kuno yang berarti pasir. Kerena sesuai kondisi wilayah saat
itu, tanahnya berwarna seperti tumpukan pasir kekuning-kuningan.
Meskipun wilayah Bone pada saat itu
tidak berpasir tapi karena kondisi tanahnya seperti warna pasir
kekuning-kuningan itulah sebabnya maka dinamakan Bone adalah kata kias
kondisi tanahnya. Jadi Bone dimaknai sebagai suatu tempat yang berada
diketinggian dari wilayah sekitanya.
Berdasarkan penelusuran Jejak Kota Tua
Bone, ternyata Bone mengalami sebanyak beberapa kali pergantian nama
ibukota sejak abad ke-10 M. sampai sekarang ini.
Dalam catatan sejarah, kerajaan Bone
berdiri pada abad ke-13 yakni pada tahun 1330 dengan nama rajanya
Manurungnge. Namun, sebelum kerajaan Bone berdiri sudah ada
kelompok-kelompok masyarakat yang disenamakan Kalula. Setiap Kalula
dipimpin oleh seorang Ponggawa Kalula (pemimpin kelompok).
Kelompok-kelompok masyarakat itu berada
dalam wilayah kerajaan Wawenriu zaman Lagaligo sekitar abad ke-10 M.
Namun beberapa catatan mengatakan kalau Kerajaan Wawenriu, telah ada
sebelum tahun 400 Masehi sekitar abad ke-4 M.
Pada awal berdirinya kerajaan Bone tahun
1330 yang dipimpin oleh Manurungnge maka ibukota kerajaan dinamakan
KAWERANG. Ada 7 Kalula yang selanjutnya disebut WANUA bergabung manjadi
persekutuan, yaitu Wanua Ponceng, Wanua Tanete Riattang, Wanua Tanete
Riawang, Wanua Ta, Wanua Macege, Wanua Ujung, dan Wanua Tibojong.
Ketujuh wanua ini bersatu dalam PANJI
WORONGPORONGNGE, merupakan Bendera BINTANG TUJUH yang menandakan Tujuh
Negeri di bawah kepemimpinan Raja Bone pertama Manurungnge yang bergelar
Mattasi Lompoe yakni Penguasa, Penjaga Laut, dan tanah.
Namun, awal terbentuk kerajaan Bone ada
beberapa Kalula atau Wanua yang tidak bergabung dan cukup disegani pada
waktu itu diantaranya Kalula atau Wanua Biru, Cellu, dan Majang. Sedang
Kalula Bukaka atau Ciung masuk dalam wialayah wanua Tanete Riawang.
Seiring dalam perkembangannya, Kerajaan
Bone ini mulai membangun wilayahnya dengan ibukota KAWERANG sebagai
pusat pemerintahan. Kawerang berada dalam wilayah wanua Tanete Riattang.
Perkembangan selanjutnya, pada masa
pemerintahan Raja Bone ke-6 La Uliyo Bote-e (1535-1560) ia mendirikan
BENTENG KOTA sekaligus ia sebagai peletak sistem perkotaan yang tangguh
sebagai kota yang mandiri dan modern pada zamannya.
La Uliyo Bote-e dikenal cerdas, pandai,
dan cermat dalam perencanaan. Pada masa ia berkuasa didampingi seorang
penasihat yang dikenal Lamellong dengan julukan Kajao Laliddong.
Pada masa itu Kajao Laliddong
dipercayakan oleh La Uliyo Bote-e mengarsiteki sekaligus pimpinan proyek
dalam pembangunan kolosal membangun benteng Kota. Sehingga ada ungkapan
cerita rakyat Bone yang mengatakan CICENGMI NARENRENG TEKKENGNA KAJAO
LALLIDDONG NATEPUI BENTENGNGE (satu kali saja diseret tongkat Kajao
Lalliddong maka jadilah benteng).
Dalam penelusuran Jejak Kota Tua Bone
dijelaskan, bahwa Benteng dalam bahasa Bugis dinamakan LALEBBATA.
Benteng terbuat dari tanah liat yang diambil dari bukit Bukaka. Benteng
ini rata-rata tingginya 5 meter. Tebal dindingnya kurang lebih 2 meter
dan tebal pondasi 15 meter. Sepanjang dinding luar benteng ditanami
pohon bambu dan berbagai jenis pohon berfungsi untuk menahan dan
mengikat tanah benteng.
Teknik pembangunan benteng tidak memakai
alat perekat tetapi teknik sederhana yaitu SUSUN TIMBUN dengan
mengikuti kontur tanah. Bukan terbuat dari batu merah atau dinding dari
batu gunung yang sudah dipahat. Walau ada sebagian benteng memakai batu
utamanya dibagian pintu keluar.
Bentuk benteng ini awalnya segi empat
panjang. Kemudian Raja berikutnya melakukan penambahan tinggi benteng
dan dindingnya dipertebal oleh Raja Bone Bone Ke-7 Latenrirawe
Bongkangnge.
Atas usulan Kajao Lalliddong, dengan
selesainya proyek Benteng Kota, maka ibukota kerajaan Bone yang
sebelumnya dinamakan KAWERANG diganti dengan nama LALEBBATA sekaligus
sebagai pusat pemerintahan kerajaan Bone. Itulah ikhwal nama Kota
KAWERANG berubah menjadi LALEBBATA.
Dan penamaan LALEBBATA sebagai ibukota
kerajaan Bone berakhir tahun 1905 ketika Belanda menyerbu Kerajaan Bone
yang dikenal RUMPA’NA BONE (Bobolnya Kerajaan Bone).
Tentara Belanda menaklukkan Bone tahun
1905 yang pada masa itu Bone dipimpin oleh La Pawawoi Karaeng Sigeri
sebagai Raja Bone ke-31 yang memerintah tahun 1895-1905.
Jadi sejak tahun 1905-1931, Bone
mengalami kekosongan pemerintahan selama 26 tahun. Meskipun Belanda
menguasai Bone tetapi Ade Pitu tetap melaksanakan aktivitas pemerintahan
atas izin Belanda.
Berdasarkan hasil musyawarah antara
Belanda dan Ade Pitu yang dilaksanakan di Bola Subbie (Gedung
Perpustakaan Daerah Sekarang), maka pada tanggal 24 Agustus 1905
LALEBBAT berubah nama menjadi WATAMPONE.
Sedang Bola Subbie adalah Istana Raja
Bone ke-31 Lapawawoi Karaeng Sigeri. Pada masa itu Istana Bola Subbie
yang berukir dan besar menghadap TAMAN KERAJAAN atau sekarang TAMAN
ARUNG PALAKKA. Kemudian Istana ini dipindahkan ke Makassar dan berdiri
di depan Karebosi sebagai tanda penaklukan Bone.
Selanjutnya Istana BOLA SUBBIE atas
permintaan rakyat Bone dikembalikan ke Bone pada tahun 1922. Tetapi
sayangnya Istana Bola SubbiE tidak utuh lagi dan tiangnya banyak yang
patah. Sehingga kalau kita mengunjungi Gedung Perpustakaan Kabupaten
Bone sekarang ini yang terletak di Jalan Merdeka Watampone, maka Anda
melihat Rumah Duduk atau Bola Meppo. Padahal sebelum pindah ke Makassar
rumah atau bekas istana Raja Bone ini mempunyai tiang.
Itulah catatan sejarah tentang pergantian nama ibukota kerajaan Bone sampai saat ini. Dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
- Sebelum kerajaan Bone berdiri sudah ada kelompok-kelompok masyarakat yang disebut Kalula
- Ibukota Kerajaan Bone yang pertama dinamakan KAWERANG atas prakarsa Raja Bone ke-1 Manurungnge tahun 1330 M
- Ibukota Kerajaan Bone yang kedua dinamakan LALEBBATA atas usulan Lamellong Kajao Lalliddong yang disetujui Raja Bone ke-6 La Uliyo Bote-e tahun 1535
- Ibukota Kerajaan Bone yang ketiga dinamakan WATAMPONE Berdasarkan hasil musyawarah antara Belanda dan Ade Pitu yang dilaksanakan di Bola Subbie (Gedung Perpustakaan Daerah Sekarang), pada tanggal 24 Agustus 1905.
Sumber : https://telukbone.id/2017/12/27/sejarah-kota-watampone/

0 komentar:
Posting Komentar