Sejarah Saoraja Bone
- 07.04
- by
- Unknown
SAORAJA atau BOLASOBA, dalam bahasa Indonesia yang
berarti Rumah Besar atau Rumah Persahabatan merupakan salah satu
peninggalan sejarah kerajaan Bone masa lalu. Bangunan rumah panggung
yang sarat dengan nilai-nilai sejarah ini masih berdiri kukuh terletak
Jalan Latenritatta, Watampone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.
Sepintas, tak ada yang istimewa dengan bangunan yang berdiri di atas
lahan seluas hampir setengah hektar tersebut. Dari luar, tampak hanya
sekadar bangunan rumah panggung tradisional ala masyarakat bugis Bone.
Hanya ada papan nama di depan bangunan serta gapura yang mempertegas
identitas bangunan tersebut.
Memasuki bagian dalam bangunan, tak ada benda-benda monumental yang
bisa menjelaskan secara hirarki dan historis bangunan tersebut. Hanya
beberapa perlengkapan properti kesenian, seperti kostum tari dan gong.
Ya, saban hari bangunan Saoraja atau Bolasoba ini menjadi tempat
pelatihan sanggar-sanggar seni yang ada di kota Bumi Arung Palakka.
Selain itu, di bagian lain ruangan terdapat Langkana atau singgasana
raja, bangkai meriam tua, gambar La Tenritatta Arung Palakka Raja Bone
ke-15, silsilah dan susunan raja-raja Bone, serta beberapa benda-benda
tertentu seperti guci dan dupa yang sengaja disimpan pengunjung sebagai
bentuk melepas nazar atau dalam bahasa Bugis mappaleppe’ tinja’.
Saoraja dibangun pada masa pemerintahan Raja Bone ke-31, La Pawawoi
Karaeng Sigeri MatinroE ri Bandung (1895-1905) . Awalnya, diperuntukkan
sebagai kediaman raja pada waktu itu sehingga disebut Saoraja.
Selanjutnya, ditempati oleh putra La Pawawoi Karaeng Sigeri yang
bernama Baso Pagilingi Abdul Hamid yang kemudian diangkat menjadi Petta
Ponggawae (Panglima Perang) Kerajaan Bone oleh raja dengan persetujuan
Ade’ Pitue.
Saat ditempati oleh Petta Ponggawae, maka bubungan rumah atau timpa’
laja diubah menjadi empat singkap atau susun setelah sebelumnya lima
singkap. Sebab, dalam tata kehidupan masyarakat Bugis, lima singkap
timpa’ laja dalam bangunan rumah diperuntukkan bagi Rumah Raja dan
timpa’ laja dengan empat singkap untuk putra raja.
Seiring dengan ekspansi Belanda yang bermaksud menguasai Nusantara,
termasuk Kerajaan Bone pada masa itu, maka Saoraja Petta Ponggawae ini
pun jatuh ke tangan Belanda dan dijadikan sebagai markas tentara. Tahun
1912, difungsikan sebagai penginapan dan untuk menjamu tamu Belanda.
Dari sinilah awal penamaan Bolasoba yang berarti rumah persahabatan
atau dalam bahasa Bugis Sao Madduppa to Pole.
Selanjutnya, Bola Soba’ juga pernah difungsikan sebagai istana
sementara Raja Bone pada masa pemerintahan Raja Bone ke-32 La
Mappanyukki Sultan Ibrahim MatinroE ri Gowa, 1931-1946,, menjadi markas
Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS), menjadi asrama TNI pada tahun
1957 hingga kemudian dijadikan sebagai bangunan peninggalan purbakala
sampai saat ini.
Saoraja telah mengalami tiga kali pemindahan lokasi. Lokasi aslinya,
terletak di Jalan Petta Ponggawae Watampone yang saat ini menjadi lokasi
rumah jabatan bupati Bone di Jalan Petta Ponggawae. Selanjutnya,
dipindahkan ke Jalan Veteran Watampone dan terakhir di Jalan
Latenritatta Watampone sejak tahun 1978, yang peresmiannya dilakukan
pada 14 April 1982 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik
Indonesia (1978-1983) saat itu, Prof Dr. Daoed Joesoef.
Sebagai bangunan peninggalan sejarah, Saoraja didesain untuk
mendekati bangunan aslinya. Namun demikian, beberapa bagian juga
mengalami perubahan, baik perbedaan bahan maupun ukurannya. Secara umum,
Saoraja yang memiliki panjang 39,45 meter ini terdiri dari empat bagian
utama, yakni lego-lego (teras) sepanjang 5,60 meter, rumah induk (21
meter), lari-larian/selasar penghubung rumah induk dengan bagian
belakang (8,55 meter) serta bagian belakang yang diperuntukkan sebagai
ruang dapur (4,30 meter).
Selanjutnya, pada bagian dinding dan tamping, dilengkapi dengan
ukiran pola daun dan kembang sebagai ciri khas kesenian Islam dengan
perpaduan model swastika yaitu sebuah simbol religius yang memiliki
latar belakang sejarah dan budaya yang kompleks.
Sejauh ini, Saoraja Bone yang juga menjadi objek wisata sejarah ini
banyak dikunjungi oleh wisatawan, tak hanya dari dalam negeri, bahkan
wisatawan macanegara . Beberapa di antaranya merupakan warga Bone yang
merantau dan mengunjungi Saoraja / Bola Soba untuk melepas nazar dan
meninggalkan benda-benda tertentu sebagai bagian dari pelepasan nazar.
Bahkan, beberapa di antara mereka kerap mengaku masih keturunan Raja
Bone ke-32 La Mappanyukki.
(Mursalim)
Sumber : https://telukbone.id/2016/05/31/sejarah-saoraja-bone/
0 komentar:
Posting Komentar