- Sebelum kerajaan Bone berdiri sudah ada kelompok-kelompok masyarakat yang disebut Kalula
- Ibukota Kerajaan Bone yang pertama dinamakan KAWERANG atas prakarsa Raja Bone ke-1 Manurungnge tahun 1330 M
- Ibukota Kerajaan Bone yang kedua dinamakan LALEBBATA atas usulan Lamellong Kajao Lalliddong yang disetujui Raja Bone ke-6 La Uliyo Bote-e tahun 1535
- Ibukota Kerajaan Bone yang ketiga dinamakan WATAMPONE Berdasarkan hasil musyawarah antara Belanda dan Ade Pitu yang dilaksanakan di Bola Subbie (Gedung Perpustakaan Daerah Sekarang), pada tanggal 24 Agustus 1905.
Bone purba awalnya hanya seluas 4
kilometer persegi berada dalam wilayah kerajaan Wawenriu zaman Lagaligo
sekitar abad ke-10 (901-1000). Abad ke-10 adalah abad yang berlangsung
sejak 901 Masehi hingga 1000 Masehi.
Sedang kata Bone sendiri merupakan
bahasa Bugis kuno yang berarti pasir. Kerena sesuai kondisi wilayah saat
itu, tanahnya berwarna seperti tumpukan pasir kekuning-kuningan.
Meskipun wilayah Bone pada saat itu
tidak berpasir tapi karena kondisi tanahnya seperti warna pasir
kekuning-kuningan itulah sebabnya maka dinamakan Bone adalah kata kias
kondisi tanahnya. Jadi Bone dimaknai sebagai suatu tempat yang berada
diketinggian dari wilayah sekitanya.
Berdasarkan penelusuran Jejak Kota Tua
Bone, ternyata Bone mengalami sebanyak beberapa kali pergantian nama
ibukota sejak abad ke-10 M. sampai sekarang ini.
Dalam catatan sejarah, kerajaan Bone
berdiri pada abad ke-13 yakni pada tahun 1330 dengan nama rajanya
Manurungnge. Namun, sebelum kerajaan Bone berdiri sudah ada
kelompok-kelompok masyarakat yang disenamakan Kalula. Setiap Kalula
dipimpin oleh seorang Ponggawa Kalula (pemimpin kelompok).
Kelompok-kelompok masyarakat itu berada
dalam wilayah kerajaan Wawenriu zaman Lagaligo sekitar abad ke-10 M.
Namun beberapa catatan mengatakan kalau Kerajaan Wawenriu, telah ada
sebelum tahun 400 Masehi sekitar abad ke-4 M.
Pada awal berdirinya kerajaan Bone tahun
1330 yang dipimpin oleh Manurungnge maka ibukota kerajaan dinamakan
KAWERANG. Ada 7 Kalula yang selanjutnya disebut WANUA bergabung manjadi
persekutuan, yaitu Wanua Ponceng, Wanua Tanete Riattang, Wanua Tanete
Riawang, Wanua Ta, Wanua Macege, Wanua Ujung, dan Wanua Tibojong.
Ketujuh wanua ini bersatu dalam PANJI
WORONGPORONGNGE, merupakan Bendera BINTANG TUJUH yang menandakan Tujuh
Negeri di bawah kepemimpinan Raja Bone pertama Manurungnge yang bergelar
Mattasi Lompoe yakni Penguasa, Penjaga Laut, dan tanah.
Namun, awal terbentuk kerajaan Bone ada
beberapa Kalula atau Wanua yang tidak bergabung dan cukup disegani pada
waktu itu diantaranya Kalula atau Wanua Biru, Cellu, dan Majang. Sedang
Kalula Bukaka atau Ciung masuk dalam wialayah wanua Tanete Riawang.
Seiring dalam perkembangannya, Kerajaan
Bone ini mulai membangun wilayahnya dengan ibukota KAWERANG sebagai
pusat pemerintahan. Kawerang berada dalam wilayah wanua Tanete Riattang.
Perkembangan selanjutnya, pada masa
pemerintahan Raja Bone ke-6 La Uliyo Bote-e (1535-1560) ia mendirikan
BENTENG KOTA sekaligus ia sebagai peletak sistem perkotaan yang tangguh
sebagai kota yang mandiri dan modern pada zamannya.
La Uliyo Bote-e dikenal cerdas, pandai,
dan cermat dalam perencanaan. Pada masa ia berkuasa didampingi seorang
penasihat yang dikenal Lamellong dengan julukan Kajao Laliddong.
Pada masa itu Kajao Laliddong
dipercayakan oleh La Uliyo Bote-e mengarsiteki sekaligus pimpinan proyek
dalam pembangunan kolosal membangun benteng Kota. Sehingga ada ungkapan
cerita rakyat Bone yang mengatakan CICENGMI NARENRENG TEKKENGNA KAJAO
LALLIDDONG NATEPUI BENTENGNGE (satu kali saja diseret tongkat Kajao
Lalliddong maka jadilah benteng).
Dalam penelusuran Jejak Kota Tua Bone
dijelaskan, bahwa Benteng dalam bahasa Bugis dinamakan LALEBBATA.
Benteng terbuat dari tanah liat yang diambil dari bukit Bukaka. Benteng
ini rata-rata tingginya 5 meter. Tebal dindingnya kurang lebih 2 meter
dan tebal pondasi 15 meter. Sepanjang dinding luar benteng ditanami
pohon bambu dan berbagai jenis pohon berfungsi untuk menahan dan
mengikat tanah benteng.
Teknik pembangunan benteng tidak memakai
alat perekat tetapi teknik sederhana yaitu SUSUN TIMBUN dengan
mengikuti kontur tanah. Bukan terbuat dari batu merah atau dinding dari
batu gunung yang sudah dipahat. Walau ada sebagian benteng memakai batu
utamanya dibagian pintu keluar.
Bentuk benteng ini awalnya segi empat
panjang. Kemudian Raja berikutnya melakukan penambahan tinggi benteng
dan dindingnya dipertebal oleh Raja Bone Bone Ke-7 Latenrirawe
Bongkangnge.
Atas usulan Kajao Lalliddong, dengan
selesainya proyek Benteng Kota, maka ibukota kerajaan Bone yang
sebelumnya dinamakan KAWERANG diganti dengan nama LALEBBATA sekaligus
sebagai pusat pemerintahan kerajaan Bone. Itulah ikhwal nama Kota
KAWERANG berubah menjadi LALEBBATA.
Dan penamaan LALEBBATA sebagai ibukota
kerajaan Bone berakhir tahun 1905 ketika Belanda menyerbu Kerajaan Bone
yang dikenal RUMPA’NA BONE (Bobolnya Kerajaan Bone).
Tentara Belanda menaklukkan Bone tahun
1905 yang pada masa itu Bone dipimpin oleh La Pawawoi Karaeng Sigeri
sebagai Raja Bone ke-31 yang memerintah tahun 1895-1905.
Jadi sejak tahun 1905-1931, Bone
mengalami kekosongan pemerintahan selama 26 tahun. Meskipun Belanda
menguasai Bone tetapi Ade Pitu tetap melaksanakan aktivitas pemerintahan
atas izin Belanda.
Berdasarkan hasil musyawarah antara
Belanda dan Ade Pitu yang dilaksanakan di Bola Subbie (Gedung
Perpustakaan Daerah Sekarang), maka pada tanggal 24 Agustus 1905
LALEBBAT berubah nama menjadi WATAMPONE.
Sedang Bola Subbie adalah Istana Raja
Bone ke-31 Lapawawoi Karaeng Sigeri. Pada masa itu Istana Bola Subbie
yang berukir dan besar menghadap TAMAN KERAJAAN atau sekarang TAMAN
ARUNG PALAKKA. Kemudian Istana ini dipindahkan ke Makassar dan berdiri
di depan Karebosi sebagai tanda penaklukan Bone.
Selanjutnya Istana BOLA SUBBIE atas
permintaan rakyat Bone dikembalikan ke Bone pada tahun 1922. Tetapi
sayangnya Istana Bola SubbiE tidak utuh lagi dan tiangnya banyak yang
patah. Sehingga kalau kita mengunjungi Gedung Perpustakaan Kabupaten
Bone sekarang ini yang terletak di Jalan Merdeka Watampone, maka Anda
melihat Rumah Duduk atau Bola Meppo. Padahal sebelum pindah ke Makassar
rumah atau bekas istana Raja Bone ini mempunyai tiang.
Itulah catatan sejarah tentang pergantian nama ibukota kerajaan Bone sampai saat ini. Dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
Sumber : https://telukbone.id/2017/12/27/sejarah-kota-watampone/
Sekitar abad 10 Masehi Bone hanya sebuah wilayah kecil di tepi Teluk
Bone. Awalnya hanya seluas 4 km persegi Letak sedikit lebih tinggi
dibanding daerah sekitar sehingga disebut Tanete. Namun Bone purba
berada dalam wilayah kerajaan Wewangriu Zaman Lagaligo.
Bone adalah nama bugis kuno yang berarti Pasir. Karena tanahnya
berpasir warna kekuning-kuningan. Sehingga Bone dahulu disebut Tanah
yang berpasir. Sebutan itu berakhir pada zaman Belanda tahun 1940-an.
KOTA KAWERANG
Ketika kerajaan Bone berdiri pada tahun 1330 M. Ada 7 wanua bergabung manjadi persekutuan yaitu :
1.Wanua Ponceng,
2. Wanua Taneteriattang,
3. Wanua Tanete Riawang,
4. Wanua Ta,
5. Wanua Macege,
6. Wanua Ujung, dan
7. WanuaTibojong.
Ketujuh wanua ini bersatu dalam panji WorongporongE. Bendera Bintang Tujuh menandakan tujuh negeri di bawah kepemimpinan Raja Bone pertama bergelar Matasi LompoE.(Penguasa/penjaga Laut dan tanah ).
Tetapi awal terbentuk kerajaan Bone ada beberapa wanua lain yang
tidak bergabung dan cukup disegani pada waktu itu seperti Biru, Cellu,
dan Majang. Sedang Bukaka atau Ciung kemungkinan masuk dalam wanua
Tanete Riawang. Kerajaan ini mulai membangun wilayahnya dengan ibukota
Kawerang. Berada dalam wanua Tanete Riattang di tepi sungai Bone.
Sungai yang ramai digunakan oleh penduduk Bone sebagai alur transportasi penting untuk menghubungkan wanua lain. Hulunya ada dua dekat Anrobiring di Palakka dan Pallengoreng sedang muaranya di Toro Teluk Bone.
Kota Kawerang sebagai pusat pemerintahan berasal dari nama tumbuhan
yang disebut Awerang yang banyak tumbuh disekitar sungai Bone.(Sekarang
terletak di jalan Manurunge Watampone.). Sejenis ilalang dan biasa
tumbuh pada tanah lembab dan berair. Tingginya kurang lebih dua meter.
Mempunyai bunga jambul putih. Karena dominan tumbuh di daerah
tersebut maka penduduk menyebut kampung Kawerang yang berasal dari kata
Engka-Awerang. Kemudian berubah sebutan menjadi Kawerang. Sama dengan
kampung-kampung lain seperti Kajuara karena Engka-Ajuara dan Kading
karena Engka-Ading. serta Palanga karena Engka-Lengnga.
Kota Kawerang inilah Istana Raja Bone Pertama ManurungE ri Matajang
berdiri. Istana menghadap sungai (letaknya sekarang diduga sekitar Jalan
raya dibelakang kantor Korem 141 Toddopuli). Dalam lontara dikatakan
bahwa istana itu berdiri dengan cepat sebelum bulisa’ nya mengering.
Bulisa’ adalah sisa kulit kayu yang masih basah. Bahkan di tempat ini
pulalah Tujuh Matoa bermusyawarah membentuk satu ikatan dalam
pemerintahan Bone. Sistem pemerintahan ini disebut juga kawerang sesuai
tempat musyawarah dilaksanakan.
Sistem Kawerang masing-masing matoa tetap menjadi penguasa di
wilayahnya dan sekaligus menjadi dewan pemerintahan kerajaan Bone. Dan
ini hanya berlangsung sampai Raja Bone ke-9 La Pattawe MatinroE Ri
Bettung (Bulukumba) kira-kira pada tahun 1569.
Kawerang sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Bone awalnya hanya
seluas sekitar sungai. Kemudian lambat laun berkembang seluruh wanua
Tanete Riattang termasuk wanua Tibojong di seberang sungai. Seiring
kemajuan kerajaan Bone batas wilayah wanua Tanete Riattang kira-kira
sekarang adalah batas Kantor Korem 141 tooddopuli membelok ke jalan
Thamrin sampai sungai dan jalan ManurungE.
Pada Pemerintahan Raja Bone pertama lebih memfokuskan pada pembuatan
aturan-aturan kemasyarakatan dan hukum ditegakkan. Juga menjalin
hubungan dengan Kerajaan-kerajaan tetangga yang besar dan lebih tua
seperti Kerajaan Awangpone, Pattiro, Palakka, dan Cina.
Sebagai politik Assiajingeng untuk meredam kembalinya zaman Sianre
Bale dan Permaisuri Raja Bone I adalah Manurunge Ri Toro mempunyai anak 4
orang yaitu La Umasa, I Pattanra wanua, We Tenri Salogo dan We Aratiga.
Kemudian anaknya bernama Laumasa menggantikan ayahnya sebagai Raja Bone
ke-2.
Pada zaman Raja Laumasa Raja Bone ke-2 berkuasa (1365-1398). Kota
kawerang berkembang, baik jumlah penduduk maupun pemukiman sehingga kota
meluas seluruh wilayah Tanete Riattang dan arah perkembangan kota mulai
begeser ke wanua Macege sebagai kampung industri pembuatan alat-alat
pertanian dan senjata, utamanya Parang Cege.
Parang Cege (bangkung Cege), adalah parang yang bentuknya lebar.
Macege berarti tempat pembuatan parang. Bahan baku besi didatangkan dari
Kelling dekat Lampoko. Raja Bone ke-2 La Umasa yang hobby dan ahli
dalam pembuatan alat senjata dari besi. Mendirikan Istana di wilayah
macege sehinggah ramai penduduk bermukim utamanya dekat kediaman baginda
di Lassonrong.
Disekitar sumur Lassonrong. Lassonrong berasal dari nama istana raja
La Umasa mempunyai beranda di belakang istana dan istana di kelilingi
gundukan tanah liat diatasnya pagar bambu yang runcing sebagai benteng.
Inilah yang disebut Sonrong. Lassonrong berarti istana yang mempunyai
beranda belakang dan pagar benteng. Di beranda belakang istana tempat
mallanro atau menempa besi milik Baginda.
Pada masa pemerintahan Baginda banyak melakukan pengembangan wilayah
baik dengan peperangan maupun dengan cara perkawinan. Baginda
menaklukkan wanua Biru di selatan , wanua Cellu di timur dan Wanua
Anrobiring dekat macege dan juga wanua Majang.
Tahun 1398 Raja La Umasa mangkat dan dimakamkan di jeppeE. Kampung
yang ditumbuhi pohon Jeppe. Pohonnya besar dan tinggi menjulang.
Sekarang wilayah itu sekitar jalan Ahmad Yani watampone.
Semasa hidupnya La umasa bergelar Petta Panre BessiE dan juga
bergelar Petta To Mulaiye Panreng (Yang pertama di makamkan) gelar
anumerta. Baginda La Umasa juga yang pertama bergelar Mangkau. Mengambil
tradisi leluhurnya ketika Bone purba sebagai kerajaan Wewangriu
bergelar Mangkau. La Umasa mempunyai anak dua bernama To Suwalle dan To
Salawakkang. Tetapi tidak menjadi Raja. Justru yang menggantikan La
Umasa adalah kemanakannya. Anak Raja Palakka bernama La Saliyu
Karempaluwa. Raja termudah dalam sejarah Kerajaan Bone.
LaSaliyu Karempalua sebagai Raja Bone ke 3 (1398-1470), dikisahkan,
penculikan dirinya ketika masih bayi usia baru beberapa hari atas
perintah Raja Bone La umasa untuk menggantikannya karena anak La Umasa
tidak memenuhi syarat menjadi Raja.
Lalu hasil musyawarah Matoa Pitu yang pantas menjadi Raja adalah anak
Raja Palakka La Pattikkeng sebab Ibunya adalah Saudara La Umasa anak
dari ManurungE Anak Pattola. Hanya antara Raja Palakka La Pattikkeng
dengan Raja Bone masih dalam pertikaian. Itulah sebabnya terjadi
penculikan yang dipimpin oleh To Suwalle dan To Salawakkang.
Kisahnya perjalanan pulang dari Palakka setelah menculik bayi
LaSaliyu oleh Sepupunya, anak dari Laumasa sempat beristirahat disuatu
telaga untuk memercikkan air dan membasuh muka bayi La Saliyu. Bayi itu
bergerak bangun (Cokkong) maka disebutlah sumur itu Lacokkong dan
kemudian menjadi tradisi turun temurun setiap anak Raja yang dilahirkan
wajib mandikan air Lacokkong. Selain itu, disebut Laccokkong, dahulu
sesudah La Ummasa Raja Bone Ke-2 daerah ini adalah daerah yang subur
untuk pertanian. Artinya siapapun yang ditempatkan di wilayah itu,
hidupnya akan makmur yang disebu Cokkong.
Masa pemerintahan Lasaliyu Kota Kawerang melebar ke Tanete Riawang.
Karena di tempat itu berdiri Pasar hadiah dari Ayah La Saliyu Raja
Palakka. Pasar tersebut sekarang menjadi Pusat pertokoan di dekat Tanah
BangkalaE sebagai Pusat kota Watampone. Dan Istana Raja Bone ke-3 La
Saliyu berdiri berdampingan dengan Pasar di depan istana dibuat alun
alun disebut Tanah BangkalaE.
Dahulu Tanah Bangkalae berfungsi sebagai tempat berkumpul masyarakat
mendengarkan informasi dari Raja atau Pejabat Istana. Kemudian akhirnya
menjadi tempat pelantikan Raja-Raja Bone yang dimulai dari Raja Bone ke-
4 We Banrigau. Tanah BangkalaE dijadikan pula pusat Bone. Possi Tanah.
Maka perkembangan kota Kawerang meluas mulai Wanua Tanteriatang, Macege
utamanya Lassonrong, Tibojong dan Wanua Taneteriawang disebut To
Kawerang, maksudnya orang kota. Adapun batas wanua Tante riawang
Termasuk taman bunga dan sampai batas Bukaka dan batas di laccokkong
sekarang.
Ketika Raja Bone Lasaliyu masih kanak-kanak, maka kedua sepupunya melaksanakan pemerintahan dengan tugas masing-masing:
To Suwalle bertugas mewakili Raja Bone urusan pemerintahan kedalam
sebagai Tomarilaleng kedalam sebagai Tomarilaleng I Kerajaaan Bone
To Salawakka bertugas mengatur urusan pemerintahan keluar dan ini merupakan MakkedangngE Tanah I dari Kerajaan Bone.
Dalam pelaksanaan sehari-hari keduanya dibantu oleh para Matoa dari
tujuh Wanua, setelah menanjak dewasa Raja Lasaliyu mengendalikan
pemerintahan, namun tetap dibantu oleh kedua kakak sepupunya. Pada saat
berangkat berperang atau kunjungan daerah (kerajaan palili) selalu
membawa bendera dan Panji WorongporongngE dan CellaE. Juga baginda
membagi Bone dalam tiga wilayah sesuai dengan pembagian bendera yaitu:
Bendera WorongporongE: mambawahi negeri Matajang, Mataangin
(Maroanging), Bukaka, Bukaka tengah (kampong tengngaE), Kawerang ,
Pallengoreng dan Mallayirang (Mallari) dikoordinasi oleh Matoa Matajang.
CellaE ri Atau yaitu yang memakai umbul merah di sebelah kanan dari
bendera WorongporoE dipergunakan oleh rakyat dari : Paccing, Tanete
(dekat Palenggoreng), Lemo-Lemo ( Desa Carebbu ), Masalle (dekat Melle),
Macege, dan Belawa (dekat Maccope). Dipimpin oleh To Suwalle digelar
Kajao Ciung.
CellaE ri Abeyo yaitu Negeri yang memakai umbul merah di sebelah kiri
dari WorongporoE: Araseng, Ujung, Ponceng, Ta’, Katumpi, Padacengnga
(desa Padaidi dekat Passippo) dan Madello (dekat desa Mico). Dipimpin
oleh To Salawakka digelar Kajao Araseng.
Dalam Lontara disebutkan bahwa Raja ini menaklukkan Negeri Pallengoreng (sebelah selatan Biru), Sinri (dekat Majang), Sancoreng (Ponre), Cerowali, Apala, Bakke Tanete(cina), Attang Salo(dekat Katumpi), Soga, Lampoko, Lemoape, Bulu(dekat Cerowali), Parippung, dan Lompu, Limampanuwa ri Lau-Ale. Dan pada masa itu Palakka disatukan dengan Kawerang. Juga beberapa wanua datang bergabung secara sukarela. Sehingga kerajaaan-kerajaan tua seperti Cina, Pattiro, Awangpone, Barebbo dan Palakka sudah bergabung dengan Bone.
Baginda membuat perkampungan disebelah utara Kawerang dekat sungai
Panyula dan Limpenno (muara sungai dekat Toro) sebagai tempat pelabuhan
bagi perahu-perahu kerajaan di tambatkan bersama tempat tinggal
pendayung dan petugas perahu Raja.
DARI KOTA KAWERANG MENJADI KOTA LALEBBATA.
Raja Bone ke-6 La Uliyo BoteE (1535-1560) adalah pendiri benteng kota
sekaligus peletak sistem perkotaan yang tangguh sebagai kota yang
mandiri dan modern pada zamannya. Baginda dikenal pandai cermat dalam
perencanaan. Pada masa berkuasa baginda didampingi seorang penasihat
terkenal Kajao Laliddong yang sering dijuluki Lamellong.
Kajao Laliddong yang dipercayakan mengarsiteki sekaligus pimpinan
proyek (pimpro) dalam pembangunan kolosal membangun benteng Kota.
Sehingga ada ungkapan ceritra rakyat Bone bahwa “Cicengmi narenreng
tekkenna Kajao Laliddong natepui bentengE”.
LALEBBATA KOTA BENTENG
Benteng atau dalam bahasa bugis Lalebbata ini dibuat dari tanah liat
diambil dari bukit bukaka. Benteng ini rata-rata tingginya 5 meter.
Tebal dinding atas kurang lebih 2 meter dan Tebal dinding bawah
(pondasi)15 meter. Sepanjang dinding luar benteng ditanami pohon bambu
dan berbagai jenis pohon berfungsi untuk menahan dan mengikat tanah
benteng.
Bahan Pembuatannya diambil dari sebagian tanah bukaka. Tapi dinding
benteng bagian utara dan timur di samping dari Tanah Liat juga diambil
dari tanah disekitar atau di dalam wilayah benteng untuk dijadikan
persawahan.
Tehnik pada pembangunan benteng tidak memakai alat perekat tetapi
teknik sederhana susun timbun yang mengikuti kontur tanah. Bukan terbuat
dari batu merah atau dinding dari batu gunung yang sudah dipahat. Walau
ada sebagian benteng memakai batu utamanya dibagian Pintu utama keluar.
Bentuk benteng Bone awalnya segi empat panjang. Kemudian Raja
berikutnya melakukan penambahan tinggi benteng dan dipertebal dinding
benteng oleh Raja Bone La tenrirawe. Hal inilah nama Kota Kawerang
berubah menjadi Lalebbata. Sesuai bentuk kota yang baru dengan adanya
benteng dan meluas hampir semua wilayah wanua pitu masuk dalam area
benteng.
Pada 1630 Raja La madderemmeng berkuasa mengalami pelebaran Benteng
sebelah Timur dan Utara dan menambah bastion-bastion dekat SalekoE.
Bentuk sudut benteng melingkar sebagai bastion dan dipasang
meriam-meriam besar. Apalagi suasana politik ketika itu memanas dengan
kebijakan Baginda penghapusan perbudakan. Model Benteng berubah dari
segi empat panjang menjadi trapesium. Selain ada pintu Utama Benteng
(Seppa Benteng) juga disetiap sisi benteng ada pintu-pintu untuk akses
masuk bagi penduduk. Benteng ini dibuat sebagai alat pertahanan juga
sebagai pusat pemerintahan. Oleh karena sumber kekuasaan berada di
istana maka peletakan benteng juga berperan untuk pertahanan pusat-pusat
hunian dan sumber daya yang ada disekitarnya.
JEJAK BENTENG
Jika menyelusuri Benteng dimulai dari sudut sebelah selatan kota,
benteng berdiri di atas jalan Kalimantan sekarang terus ke timur
melewati pinggir jalan Kawerang melalui persawahan dekat sungai Bone. Di
tempat itu berdiri bastion. Lalu ke timur lagi dekat jalan Pramuka
disebut Diattang Benteng. Kemudian membelok ke Utara dan di sudut
benteng itu terdapat Bubung LoppoE (sumur besar) digunakan untuk
persediaan air bagi prajurit Bone.
Ke utara benteng melalui persawahan dekat mesjid jalan Bajoe dan
disebut Seppa BentengE. Dan membelok ke arah barat di atas jalan, pada
sudut benteng membulat sebagai bastion tetapi ada pula pelebaran benteng
dekat Salekoe juga berdiri Bastion-bastion.
Diatas jalan menuju Bukaka membelok ke utara kira-kira 200 meter ke
arah barat menuju Bukaka dekat Bubung Lagarowang. Komplek kuburan
KalokkoE masuk dalam benteng. Disebut Awang Benteng dari Bukaka menuju
ke selatan antara jalan Makmur dengan jalan Benteng adalah bekas benteng
dan bertemu di jalan Kalimantan dekat Kantor Dinas Kesahatan.
Benteng-benteng ini hancur akibat peperangan utamanya dalam perang Bone
dengan Belanda. Pada tahun 1920-an benteng-benteng ini umumnya diambil
tanahnya dijadikan jalan raya, seperti bagian selatan kota Watampone
benteng itu dijadikan jalan Kalimantan sekarang dan begitupula Lapangan
Persibo ditimbun dari tanah benteng yang dahulu adalah persawahan.
WATAMPONE
Ibukota Lalebbata kerajaan Bone berakhir tahun 1905. Ketika Tentara
Belanda menaklukkan Bone dengan hasil musyawarah pada tanggal 24 Agustus
1905. Kota Lalebbata berubah menjadi Watampone pada musyawarah Ade Pitu
bersama Hindia Belanda di Bola SubbiE Istana Raja La Pawawoi Karaeng
Sigeri.
Istana kebanggaan Kerajaan Bone berukir dan besar menghadap Taman
Raja atau sekarang Taman Bunga. Kemudian Istana ini di pindahkan ke
Makassar dan berdiri di depan Karebosi sebagai tanda penaklukan Bone.
Dan kembali ke Bone pada tahun 1922 atas permintaan Rakyat Bone Tetapi
sayangnya Istana Bola SubbiE tidak utuh lagi.
Watampone yang berarti Pusatnya Bone. Zaman pemerintahan Hindia
Belanda Penataan Kota dibangun. Area kota ditata mulai Wilayah ekonomi,
Agama dan pendidikan, pemerintahan dan kalangan bangsawan. Jalan-jalan
dibuat, Pohon Asam dan Kenari ditanam di pinggir jalan. Taman ditata
seperti Koning Plein atau Taman Raja sekarang jadi Taman Bunga. Dan
bangunan bangunan berciri Kolonial didirikan. Istana Raja Bone dibangun
untuk menggantikan Istana Bola SubbiE menjadi Kantor Dewan Adat
Pitu(Perpustakaan Umum Daerah sekarang di Jalan Merdeka). Yang
dipersiapkan Raja Bone La Mappanyukki pada tahun 1930 (Meseum Lapawaoi
sekarang).
Bola Soba dipindahkan di jalan Veteran sebagai markas Marsose dan
dididrikan Rumah Pejabat Hindia Belanda dengan sebutan Tuan Petoro
Bottoa(Controler Residen). Dan Tangsi-tangsi militer dan juga Rumah
Sakit.
tahun 2016 Bone telah berusia 686 tahun tetapi jauh dari usia itu
Tanah Bone telah ada dengan penduduknya. Sudah tiga kali pergantian nama
Ibukota sejak tahun 1330 sampai sekarang . Tetapi penduduknya masih
tetap dan senang menyebut ibukotanya dengan sebutan Bone.
Kota Watampone telah menyimpan sejarah panjang dengan penduduknya
tetapi tidak memperlihatkan suatu kota sarat sejarah masa lalu apalagi
sebagai ibukota kerajaan Bugis terbesar. Oleh karen itu saatnya sekarang
bangunan-bangunan tua bersejarah dan situs-situs perlu dipertahankan
dan dilindungi sebagai identitas kota tua.
Jika sekarang mau bangun Bone mestinya atau paling tidak pelajari
dulu sejarahnya, agar yang dibangun itu bernilai edukatif yakni bisa
memberikan informasi dan pembelajaran kepada generasi.
(TELUK BONE)
Sumber : https://telukbone.id/2012/08/15/jejak-kota-tua-bone/
Jejak Kota Tua Bone
Unknown
14.14
Sejak kecil, dari pelajaran dan buku-buku sejarah, kita mungkin sering mendengar nama Arung Palakka. Yang ada dibenak kita saat itu (dan mungkin sampai sekarang) bahwa dia adalah seorang pengkhianat bangsa karena bekerja sama dengan VOC memerangi Sultan Hasanuddin. Siapakah sebenarnya beliau? Apa sebetulnya motifnya bekerjasama dengan VOC dan memerangi bangsanya sendiri? Catatan pendek berikut ini semoga dapat memberi sedikit pencerahan.
Arung Palakka Memiliki 9 Nama
Nama Arung Palakka cukup banyak, sehingga bila ingin disebut semuanya bisa menjadi barisan kalimat nama yang panjang. Kata Arung Palakka hanyalah sebuah gelar, untuk mengetahui siapakah nama sesungguhnya sang pembebas itu ?
Berikut daftar nama-namanya :
Arung Palakka adalah tokoh sentral yang mengubah jalannya percaturan kekuasaan di kawasan Sulawesi Selatan pada Abad XVII. Dalam banyak buku tentang ketokohan dan perjuangannya, seringkali membuat pembaca, khususnya peminat Sejarah Sulawesi Selatan yang bukan orang Bugis Makassar menjadi bingung karena banyaknya nama yang dilekatkan pada diri Arung Palakka. Berikut ini penjelasan satu persatu mengenai nama – namanya.
1.La Tenri Tatta Toappatunru, adalah nama kecil dan nama remaja Arung Palakka. Kata depan “La” pada depan namanya tersebut menunjukkan bahwa yang bersangkutan adalah Bangsawan (Laki – laki). Kata “Tenri” itu artinya Tidak, sedang Tatta bermakna kemauan. ” Toappatunru” artinya adalah yang menundukkan. (To = orang, Appatunru = yang menundukkan). Jadi, “La Tenri Tatta Toappatunru” itu artinya Laki – laki (bangsawan) yang tidak dapat dibatasi kemauannya dan orang yang menundukkan.
2.Daeng Serang adalah nama Arung Palakka saat berada di Makassar (Saat Bone telah dijajah oleh Gowa, Arung Palakka dan keluarganya dipekerjakan di rumah bangsawan tinggi Gowa sedang Orang Bugis Bone – Soppeng lainnya menderita kerja paksa membangun benteng – benteng Makassar. Arung Palakka pun juga merasakan kerja paksa bersama rakyatnya tersebut).
3.Datu Marioriwawo, artinya Raja di Marioriwawo. Marioriwawo adalah kerajaan yang ada di Soppeng. Kerajaan ini adalah warisan dari ibunya, We Tenrisui Datu Mario Riwawo.
4.Arung Palakka, artinya Raja di Palakka. Palakka adalah salah satu kerajaan yang ada dalam wilayah Bone. Kerajaan Palakka adalah warisan dari kakeknya, La Tenri Ruwa Arung Palakka MatinroE ri Bantaeng (Raja Bone XI). Menurut tradisi Kerajaan Bone bahwa, “Yang berhak menjadi Raja di Palakka, berhak pula menjadi Raja di Bone (Arung Mangkaue’ ri Bone), namun tidak semua Raja Bone pernah menjadi Raja di Palakka”. (Kasim, 2002).
5.Petta Malampeq Gemmekna, artinya Raja yang berambut panjang. Nama ini terkait dengan sumpahnya bahwa Arung Palakka tidak akan memotong rambutanya jika belum berhasil membebaskan rakyatnya dari penjajahan Gowa. (Petta itu sebutan untuk bangsawan tinggi Bugis, Malampeq = panjang, Gemmekna = panjang rambutnya). Rambut Arung Palakka tersebut terus menyertai masa perjuangannya (1660 – 1667) dan nantilah dipotong setelah perjuangannya dianggapnya telah berhasil.
6.Arung Ugi, artinya Raja Bugis (Kompeni Belanda menyebutnya Koningh der Bougis). Gelar ini melekat pada Arung Palakka setelah membebaskan negerinya dari cenkeraman kekuasaan Gowa dan menjadi Penguasa atasan (Raja tertinggi) semua negeri / kerajan Bugis. (Ugi artinya Bugis).
7.Petta Torisompae’, artinya Raja yang disembah. Gelar ini melekat pada Arung Palakka sebagai sebuah sebutan dari rakyatnya karena begitu diagungkannya sosoknya sebagai ‘Pahlawan’ dan Raja yang berjasa menaklukkan Kerajaan Makassar.
8.Sultan Saaduddin, adalah nama atau gelar Islam untuk Arung Palakka
9.Matinroe ri Bontoala , artinya yang meninggal di Bontoala, istananya di Makassar.
Sebenarnya masih ada lagi beberapa nama yang melekat pada diri Arung Palakka, Raja Bone XV ini, seperti Datu Pattiro, Datu Lamuru, dan lain sebagainya tapi tidaklah terlalu populer dan yang umum disebut adalah nama – nama diatas.
Arung Palakka merupakan anak dari Putri Raja Bone ke 11, La Tenriawe Matinroe ri Bantaeng. Dilahirkan di Lamatta Soppeng, 15 September 1634 pada saat Kerajaan Bone menjadi daerah taklukan kerajaaan Gowa ketika penyebaran agama Islam di Sulawesi Selatan dimulai di masa Sultan Alaudin (kakek Sultan Hasanuddin) da meninggal di Bontoala, 16 April 1696 (Usia 62 Tahun)
Arung Palakka tumbuh besar bersama I Mallombasi anak Sultan Malikussaid Raja Gowa. Ia sebenarnya menikmati hidup di kerajaan Gowa karena mendapat fasilitas yang sama dengan I Malombassi, yang kelak menjadi Sultan Hasanuddin. Bahkan disinyalir, bahwa sebenarnya mereka ini bersaudara tiri.
Semasa kecil, ia sempat menyaksikan salah seorang pamannya mati dibunuh dengan cara di “nampu” dimasukkan di lesung kemudian ditumbuk-tumbuk seperti layaknya menumbuk gabah untuk membuat beras. Ia dapat melihat semua bentuk penindasan karena memang dijadikan anak angkat oleh Karaeng Pattingalloang Raja Tallo yang merangkap Tumabbicar-butta na Gowa
Patih Kerajaan Gowa semasa pemerintahan Sultan Malikussaid, ayah dari Sultan Hasanuddin yang kemudian memberinya nama Paddaengeng yakni, Daeng Serang.
Sedari usia muda, ia menyaksikan dengan kasat mata penderitaan rakyat Bone yang ditindas secara kejam oleh kerajaan Gowa, salah satu diantaranya adalah kerja paksa untuk membangun Benteng dan kanal atau terusan alias sungai buatan.
Setelah dewasa, Arung Palakka semakin hari semakin membulatkan tekad untuk membebaskan Bone dari penindasan Gowa.
Akan tetapi banyak kerabatnya yang tidak mendukung karena dianggap melawan Gowa adalah tindakan nekat dan mereka tidak yakin bisa memenangkan pertempuran karena kalah pasukan dan persenjataan.Tetapi tekad Arung Palakka dengan semangat MATTULU TELLUE SUMANGE’ TEA LARA’ dan menyatakan akan bekerjasama dengan setan dari neraka sekalipun demi membebaskan Bone dari penindasan.
Menurut catatan sejarah, ada satu hal yang membuat Arung Palakka amat tersinggung sehingga membulatkan tekadnya untuk menaklukkan Gowa yaitu adalah pemaksaan yg dilakukan oleh Karaeng Karunrung (sebutlah Perdana menteri Gowa Tallo saat itu) yang memerintahkan semua orang Bone, Soppeng, dan semua daerah taklukkan untuk membangun Benteng Somba Opu yang kala itu terancam di serang oleh VOC. Karena merasa bangsawan, disuruh bekerja kasar bersama rakyat Bone waktu itu, Arung Palakka, Arung Bakke, dan Arung Tobala serta beberapa pengikutnya yang terkenal dengan nama To Angke’ menolak dan melarikan diri.
Ketika dikejar oleh pasukan Gowa, Arung Palakka lari ke Buton untuk meminta suaka atau perlindungan politik sebelum bertolak di tepi pantai Bulu Campalagi, Arung Palakka mengucapkan sumpah yang berbunyi “Iyapa Kuteppe’i Welua’ku, Narekko Pura Kupaccolo Darana ana’ Maddara Takku-na Gowa” (nanti kupotong rambutku, setelah kubuat menetes darah putra bangsawan Gowa) sembari menghentakkan kakinya ke batu kemudian melompat naik ke perahu. Saking kerasnya sentakan kaki Arung Palakka, bekas telapak kakinya masih berbekas di batu sampai sekarang di pantai Bukit Campalagi. Pelarian mereka akhirnya sampai ke Batavia.
Di Batavia, ia menjalin kesepahaman dengan VOC (Belanda). VOC sendiri memiliki misi menguasai kerajaan Gowa (mereka berulangkali menyerang Gowa akan tetapi selalu gagal), jika mereka berhasil memenangkan peperangan maka Gowa akan dikuasai oleh VOC sedangkan Bone tidak akan diinjak oleh Kompeni VOC Belanda. Kesepakatan terjadi Belanda menyerang Gowa dari laut dan Bone menyerang melalui darat. Pada tahun 1667, Makassar jatuh dan terpaksa menandatatangani perjanjian Bongaya.
Setelah Gowa jatuh, Arung Palakka kembali mendapatkan kerajaannya. Sampai penghujung abad 17, Arung Palakka adalah satu-satunya Raja yang berhasil menguasai hampir seluruh jazirah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku dan Nusa Tenggara. Pengaruhnya sampai ke Sumatera Barat dan Jawa Timur, dimana beliau pernah menghancurkan kekuatan raja lokal disana, termasuk kerajaan Trunojoyo di Madura.
Arung Palakka juga memiliki gelar Islam yakni Sultan Sa’aduddin, artinya adalah Singa Agama.
Entah bagaimana di banyak kronik sejarah, nama Islam raja-raja Bone jarang disebutkan, tidak seperti raja-raja Gowa/Makassar yang justru lebih ditampilkan adalah gelar Islam nya.
Arung Palakka Meninggal di Bontoala, 16 April 1696. Dimakamkan di Katangka, makam raja-raja Gowa-Tallo, berdampingan dengan ayah angkatnya, Karaeng Pattiongalloang Raja Tallo.
Dari kronologis di atas, apakah masih ada pihak-pihak yang inging mengatakan Arung Palakka Penghianat?
Pada saat itu belum ada NKRI, yang ada
adalah kerajaan-kerajaan yang masing-masing ingin mempertahankan
eksistensinya. Kami bangga beliau digelar Pahlawan Kemanusiaan karena
menyangkut seluruh dunia. Pahlawan Kemerdekaan atau Nasional hanya
menyangkut dari Sabang sampai Marauke.
Salah satu keturunannya adalah Arung
Labuaja yang terkenal dengan “La Temmu Page Daeng Parenring”. Arung
Labuaja yang dikenal sebagai “Sang Jenderal”, De laatste Generaal Van
Bontorio (Panglima Perang Terakhir Kerajaan Bone dari Bontorio), “Tolo’
Rumpa’na Bone dan “Tolo’na Arung Labuaja”. Panglima Perang Bone inilah
yang terakhir melawan Kolonialis Belanda di awal abad 20.
Balada Arung Palakka
BALADA ARUNG PALAKKA
Satu bayi suci memberontak
Melepaskan diri dari dekapan
Rahim suci bunda
Bersamaan guntur menggelegar
Merobek sunyi di keheningan langit
Bayi sucimenalap dunia
Menerima kejadian – kejadian datang
Mendengar desing – desing huru
Arung palakka … Arung Palakka… Arung Palakka
Laki – laki batu berdarah semberani
Jiwamu memberontak
Pikiranmu mau memberontak
Merontak…merontak… merontak
Panglima melampe’e gemme’na
Berhati rajawali
Pemberontakanmu , perlawananmu
Membawa kemuliaan batin
Bagi umat Tana Bone
Bimbinganmu keperdamaian
Arung Palakka…Arung Palakka…Arung Palakka
Laki laki malampe’e gemme’ na
Berdarah bangsawan
Penberontakanmu , pahlawanmu
Menjadi merah
Merah…merah…merah kotor
Bagi sejarah bangsa lain
Namun tuhanmu di arasi
Lebih mengetahui hakikat
Jiwa dan perasaanmu
Juga baktimu ….
Melepaskan diri dari dekapan
Rahim suci bunda
Bersamaan guntur menggelegar
Merobek sunyi di keheningan langit
Bayi sucimenalap dunia
Menerima kejadian – kejadian datang
Mendengar desing – desing huru
Arung palakka … Arung Palakka… Arung Palakka
Laki – laki batu berdarah semberani
Jiwamu memberontak
Pikiranmu mau memberontak
Merontak…merontak… merontak
Panglima melampe’e gemme’na
Berhati rajawali
Pemberontakanmu , perlawananmu
Membawa kemuliaan batin
Bagi umat Tana Bone
Bimbinganmu keperdamaian
Arung Palakka…Arung Palakka…Arung Palakka
Laki laki malampe’e gemme’ na
Berdarah bangsawan
Penberontakanmu , pahlawanmu
Menjadi merah
Merah…merah…merah kotor
Bagi sejarah bangsa lain
Namun tuhanmu di arasi
Lebih mengetahui hakikat
Jiwa dan perasaanmu
Juga baktimu ….
(Mursalim)
Sumber : https://telukbone.id/2012/12/20/menelusuri-gelegar-juang-arung-palakka/
Menelusuri Gelegar Juang Arung Palakka
Unknown
14.09
Unknown
14.09
Sebelum masyarakat bugis mengenal
islam mereka sudah mempunyai “kepercayaan asli” (ancestor belief) dan
menyebut Tuhan dengan sebutan ‘Dewata SeuwaE’, yang berarti Tuhan kita
yang satu. Bahasa yang digunakan untuk menyebut nama
‘Tuhan’ itu menunjukkan bahwa orang Bugis memiliki kepercayaan kepada
Tuhan Yang Maha Esa secara monoteistis. Menurut Mattulada, religi orang
Bugis masa Pra-Islam seperti tergambar dalam Sure’ La Galigo, sejak awal
telah memiliki suatu kepercayaan kepada suatu Dewa (Tuhan) yang
tunggal, yang disebut dengan beberapa nama : PatotoE (Dia yang
menentukan Nasib), Dewata SeuwaE (Dewa yang tunggal), To-Palanroe (sang
pencipta) dan lain-lain.
Kepercayaan dengan konsep dewa tertinggi To-Palanroe atau PatotoE,
diyakini pula mempunyai anggota keluarga dewata lain dengan beragam
tugas. Untuk memuja dewa–dewa ini tidak bisa langsung, melainkan lewat
dewa pembantunya. Konsep deisme ini disebut dalam attoriolong, yang
secara harfiah berarti mengikuti tata cara leluhur. Lewat atturiolong
juga diwariskan petunjuk–petunjuk normatif dalam kehidupan
bermasyarakat. Raja atau penguasa seluruh negeri Bugis mengklaim dirinya
mempunyai garis keturunan dengan Dewa–dewa ini melalui Tomanurung
(orang yang dianggap turun dari langit/kayangan), yang menjadi penguasa
pertama seluruh dinasti kerajaan yang ada. (Kambie, 2003).
Istilah Dewata SeuwaE itu dalam aksara lontara, dibaca dengan berbagai macam ucapan, misalnya : Dewata, Dewangta, dan Dewatangna yang mana mencerminkan sifat dan esensi Tuhan dalam pandangan teologi orang Bugis. De’watangna berarti “yang tidak punya wujud”, “De’watangna” atau “De’batang” berarti yang tidak bertubuh atau yang tidak mempunyai wujud. De’ artinya tidak, sedangkan watang (batang) berarti tubuh atau wujud. “Naiyya Dewata SeuwaE Tekkeinnang”, artinya “Adapun Tuhan Yang Maha Esa itu tidak beribu dan tidak berayah”. Sedang dalam Lontara Sangkuru’ Patau’ Mulajaji sering juga digunakan istilah “Puang SeuwaE To PalanroE”, yaitu Tuhan Yang Maha Esa, Sang Pencipta. Istilah lain, “Puang MappancajiE”. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Konsep “Dewata SeuwaE” merupakan nama Tuhan yang dikenal etnik Bugis–Makassar. (Abidin, 1979 : 12 dan 59).
Kepercayaan orang Bugis kepada “Dewata SeuwaE” dan “PatotoE” serta kepercayaan “Patuntung” orang Makassar sampai saat ini masih ada saja bekas-bekasnya dalam bentuk tradisi dan upacara adat. Kedua kepercayaan asli tersebut mempunyai konsep tentang alam semesta yang diyakini oleh masyarakat pendukungnya terdiri atas tiga dunia, yaitu dunia atas (boting langi), dunia tengah (lino atau ale kawa) yang didiami manusia, dan dunia bawah (peretiwi). Tiap-tiap dunia mempunyai penghuni masing-masing yang satu sama lain saling mempengaruhi dan pengaruh itu berakibat pula terhadap kelangsungan kehidupan manusia. Untuk mengetahui lebih jauh tentang kepercayaan Patuntung, lihat : Martin Rossler, “Striving for Modesty : Fundamentals of The Religion and Social Organization of The Makassarese Patuntung”, dalam BKI deel 146 2 en 3 en aflevering, 1990 : 289 – 324 dan WA Penard, “De Patoentoeng” dalam TBG deel LV, 1913 : 515 – 54.
Gervaise dalam “Description Historique du Royaume de Macacar” sebagaimana dikutip Pelras (1981 : 168) memberikan uraian tentang agama tua di Makassar. Menurut Gervaise orang-orang Makassar zaman dahulu menyembah Dewa Matahari dan Dewa Bulan yang disembah pada waktu terbit dan terbenamnya Matahari atau pada saat Bulan tampak pada malam hari. Mereka tidak mempunyai rumah suci atau kuil. Upacara sembahyang dan Kurban–kurban (Bugis : karoba) khususnya diadakan di tempat terbuka. Matahari dan Bulan diberi kedudukan yang penting pada hari-hari “kurban” (esso akkarobang) yang selalu ditetapkan pada waktu Bulan Purnama dan pada waktu Bulan mati, karena itu pada beberapa tempat yang sesuai disimpan lambang-lambang Matahari dan Bulan. Tempat ini dibuat dari tembikar, tembaga, bahkan juga dari emas (Pelras, 1981 : 169).
Selain menganggap Matahari dan Bulan itu sebagai Dewa, orang Bugis Makassar pra-Islam juga melakukan pemujaan terhadap kalompoang atau arajang. Kata “Arajang” bagi orang Bugis atau “Kalompoang” atau “Gaukang” bagi orang Makassar berarti kebesaran. Yang dimaksudkan ialah benda-benda yang dianggap sakti, keramat dan memiliki nilai magis. Benda-benda tersebut adalah milik raja yang berkuasa atau yang memerintah dalam negeri. Benda-benda tersebut berwujud tombak, keris, badik, perisai, payung, patung dari emas dan perak, kalung, piring, jala ikan, gulungan rambut, dan lain sebagainya. (Martinus Nijhoff, 1929, 365-366).
_________________________________________________________
KEPERCAYAAN BUGIS ANTARA ISLAM DAN TO LOTANG
Rasanya, hampir semua orang bila mendengar nama bugis pikirannya langsung tertuju pada salah satu makanan khas Indonesia berbahan dasar tepung ketan dengan isian kelapa dan gula di dalamnya. Namun, Bugis juga merupakan nama sebuah suku yang ada di Indonesia.
Suku Bugis adalah masyarakat asli dari Provinsi Sulawesi Selatan. Jumlah masyarakat suku Bugis di tahun 2000 mencapai angka enam juta jiwa. Suku Bugis tersebar di beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan, seperti Kabupaten Luwu, Bone, Wajo, Pinrang, Barru, dan Sidrap. Salah satu ciri khasnya adalah sistem kepercayaan suku Bugis.
Sistem Kepercayaan Agama Islam
Masyarakat suku Bugis dengan segala kebudayaan dan adat istiadat juga memiliki sistem kepercayaan. Kepercayaan suku Bugis yang banyak dianut sejak abad ke-17 adalah Islam. Islam dibawa oleh para pesyiar dari daerah Minangkabau.
Para pesyiar tersebut membagi wilayah penyebaran agama Islam menjadi tiga wilayah. Di wilayah Gowa dan Tallo, penyiar yang ditugaskan adalah Abdul Makmur. Di wilayah Luwu, yang diperintahkan untuk menyiarkan ajaran Islam adalah Suleiman. Untuk wilayah Bulukumba, Nurdin Ariyani yang ditugaskan untuk bersyiar.
Sistem Kepercayaan To Lotang
Selain Islam, kepercayaan suku Bugis lainnya adalah sistem kepercayaan To Lotang. Sistem kepercayaan To Lotang memiliki penganut sebanyak 15 ribu jiwa. Masyarakat yang menganut sistem kepercayaan To Lotang tinggal di wilayah Amparita, Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Sidenreng Rappang.
Sistem kepercayaan To Lotang didirikan oleh La Panaungi. Kepercayaan ini ada karena pendirinya mendapatkan ilham dari Sawerigading. Sawerigading adalah jenis kepercayaan yang memuja Dewata SawwaE.
Kitab suci bagi penganut sistem kepercayaan ini adalah La Galigo. Isi yang terkandung dalam kitab tersebut diamalkan turun-menurun secara lisan dari seorang uwak atau tokoh agama kepada para pengikutnya.
Sistem kepercayaan ini memiliki tujuh orang tokoh agama, yang diketuai oleh seorang Uwak Battoa. Sementara itu, tokoh agama yang lain mengurusi hal-hal mengenai masalah sosial, usaha tanam, dan penyelenggaraan upacara ritual.
To Lotang menurut bahasa Bugis artinya adalah ‘orang selatan’. Zaman dulu, masyarakat ini sering mengungsi dari satu daerah ke daerah lain di Sulawesi Selatan. Setelah berkali-kali mengungsi, pada 1609, masyarakat dengan sistem kepercayaan ini menetap di Amparita berkat perintah dari Raja Sidendreng.
Suku Bugis memiliki beberapa kerajaan, di antaranya Kerajaan Wajo, Kerajaan Soppeng, Kerajaan Makassar, dan Kerajaan Bone. Kerajaan yang terdapat di sekitar suku Bugis sering mengalami konflik. Biasanya, konflik di antara mereka terjadi akibat perebutan daerah kekuasaan.
_______________________
Telah dibahas dalam artikel yang lalu bahwa suku Bugis adalah suku yang mendiami daerah Sulawesi Selatan. Namun karena akar suku Bugis adalah Melayu dan Minangkabau, maka kegiatan merantau tidak dapat dipisahkan dari suku ini. Maka tidak heran jika suku Bugis tersebar di berbagai wilayah di Nusantara ini. Menurut sensus penduduk pada tahun 2000, masyarakat Bugis jumlahnya mencapai enam juta jiwa. Suku Bugis yang ada di Indonesia mayorita mendiami Sulawesi Selatan, yang mencakup kabupaten Luwu, Bone, Wajo, Barru, Pinrang dan Sidrap.
Kepercayaan masyarakat Bugis
Selain memiliki adat istiadat masa lalu yang erat kaitannya dengan animisme dan dinamisme atau penyembahan roh dan berhala, namun ada juga sistem kepercayaan masyarakat Bugis. Pada umumnya sistem kepercayaan suku Bugis terbagi menjadi dua, yakni sistem kepercayaan To Lotang dan Agama Islam. Kami akan membahas keduanya satu persatu.
Sistem Kepercayaan To Lotang
To Lotang dalam bahasa Bugis artinya “orang selatan”. Kepercayaan To Lotang adalah kepercayaan yang menyembah Dewata SawwaE sebagai Tuhan. Kepercayaan ini ada dikarenakan pendirinya mendapatkan ilham dari Sawerigading. Sawerigading inilah yang pertama kali memuja Dewata SawwaE. Sistem kepercayaan ini memiliki penganut kurang lebih 15 ribu jiwa. Persebaran masyarakat yang menganut sistem kepercayaan ini ada di wilayah Amparita, Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Sindendreng Rappang.
Kepercayaan ini memiiki sebuah kita suci yang diberi nama La Galigo. Isi yang ada dalam kitab ini diamalkan secara turun temurun dan ditularkan secara lisan oleh uwak atau tokoh agama kepada para pengikutnya. Dalam sistem kepercayaan ini ada tujuh tokoh agama yang diketuai oleh soerang Uwak Battoa. Dari tujuh tokoh agama tersebut, enam tokoh diantaranya mengurusi permasalahan seperti masalah sosial, usaha tanam dan penyelenggaraan ritual kepercayaan. Pada zaman dulu, masyarakat ini sering mengungsi ke daerah lain di Sumatera Selatan, namun pada tahun 1609, masyarakat ini diberikan tempat oleh Rja Sindendreng di Amparita hingga saat ini.
Agama Islam dalam masyarakat Bugis
Agama yang dianut oleh mayoritas masyarakat Bugis sejak abad ke-17 adalah Islam. Adalah masyarakat Minangkabau yang membawa Islam ke tanah Bugis, utamanya pada da’i dari daerah Sumatera Barat. Pesyiar atau para da’i membagi wilayah penyebaran Islam dalam tiga wilayah yang berbeda. Ada Abdul Makmur yang ditugaskan untuk menyiarkan Agama Islam di tanah Gowa dan Tallo. Suleiman diperintah untuk mengajarkan Islam di daerah Luwu, sedangkan untuk daerah Bulukumba, Nurdin Ariyani terpilih untuk bersyiar disana.
Pada masa itu suku Bugis memiliki banyak kerajaan, diantaranya Wajo, Soppeng, Makassar dan Bone. Hal ini mengakibatkan seringnya terjadi konflik di masa lalu yang umumnya dipicu oleh perebutan daerah kekuasaan dan sumber daya alam. Pada masa itu Islam datang yang memicu kebesaran kerajaan Gowa dan Tallo untuk menyingkirkan konflik yang ada. Kerajaan inilah yang menghasilkan pahlawan terkenal, Sultan Hasanudin.
_____________________________ Kepercayaan Masyarakat Bugis Terhadap Sawerigading
Dengan adanya kisah yang unik mengenai Sawerigading, maka muncullah berbagai kepercayaan bagi masyarakat Bugis, khususnya yang berkenaan dengan aspek religius.
Menurut kepercayaan sebagian masyarakat Bugis, Sawerigading memiliki kekuatan supranatural, karena ia merupakan keturunan dewa (to manurung). Bahkan ada yang menganggapnya sebagai Nabi yang diturunkan ke bumi.
Dari kisah perjalanan Sawerigading ke berbagai negara, muncul anggapan bahwa ia pernah bertemu dengan Nabi Muhammad. Dalam pertemuannya itu, ia sempat melakukan diskusi dan mengadakan adu ketangkasan. Dalam adu ketangkasan itu, sempat draw (seri) sebanyak dua kali, dan barulah pada pertandingan terakhir, Sawerigading mengakui kehebatan Nabi Muhammad.
Menurut kepercayaan tersebut, Sawerigading mempunyai ajaran yang mirip dengan ajaran Islam, yaitu salat dan naik haji. Perbedaannya hanya dari segi pelaksanaannya, yaitu salatnya hanya melalui batinnya. Selain itu, Sawerigading menganjurkan anak cucunya untuk mengunjungi Mekah, karena di sisi Ka’bah terdapat nama Sawerigading.
Bahkan ada paham yang berkembang bahwa mengunjungi puncak gunung Pensemeuni, di tepi Sungai Cerekang (Malili), sama halnya dengan menunaikan ibadah haji. Sebab, di tempat itulah turunnya Batara Guru ke dunia.
Yang lebih unik lagi adalah kepercayaan masyarakat Towani-Tolotang yang ada di Kabupaten Sidrap. Mereka beranggapan bahwa Sawerigading kembali ke Mekah dan mendampingi Nabi Muhammad dalam setiap pertempuran. Di tangan Sawerigading terdapat satu juz al-Quran, yang belum ikut terkodifikasikan bersama 30 juz lainnya. Karenanya, mereka tidak mengakui keberadaan al-Quran mushaf Usmani, karena belum lengkap. Sampai sekarang, mereka tetap menunggu kedatangan Sawerigading untuk membawa 1 juz al-Quran itu kepadanya.
Referensi Makalah®
Kepustakaan:
Sarita Pawiloi, Sejarah Pendidikan di Sulawesi Selatan, Jakarta : IDKD Depdikbud, 1982. H.D.Mangemba, Sawerigading ke Cina, Ujungpandang : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Sulawesi Selatan, 1987. Sumange Alam Tjahra, Beberapa Pandangan tentang Isi Sure’ I La Galigo, Ujungpandang : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1987
________________________________________
Kepercayaan Bugis, Makassar, Mandar. dan Toraja sebelum Islam
Sejak dahulu, masyarakat Sulawesi Selatan telah memiliki aturan tata hidup. Aturan tata hidup tersebut berkenaan dengan, sistem pemerintahan, sistem kemasyarakatan dan sistem kepecayaan. Orang Bugis menyebut keseluruhan sistem tersebut Pangngadereng, orang Makassar Pangadakang, Orang Luwu menyebutnya Pangngadaran, Orang Toraja Aluk To Dolo dan Orang Mandar Ada’.
Dalam hal kepercayaan penduduk Sulawesi Selatan telah percaya kepada satu Dewa yang tunggal. Dewa yang tunggal itu disebut dengan istilah Dewata SeuwaE (dewa yang tunggal). Terkadang pula disebut oleh orang Bugis dengan istilah PatotoE (dewa yang menentukan nasib). Orang Makassar sering menyebutnya dengan Turei A’rana (kehendak yang tinggi). Orang Mandar Puang Mase (yang maha kedendak) dan orang Toraja menyebutnya Puang Matua (Tuhan yang maha mulia).
Mereka pula mempercayai adanya dewa yang bertahta di tempat-tempat tertentu. Seperti kepercayaan mereka tentang dewa yang berdiam di Gunung Latimojong. Dewa tersebut mereka sebut dengan nama Dewata Mattanrue. Dihikayatkan bahwa dewa tersebut kawin dengan Enyi’li’timo’ kemudian melahirkan PatotoE. Dewa PatotoE kemudian kawin dengan Palingo dan melahirkan Batara Guru.
Batara Guru dipercaya oleh sebagian masyarakat Sulawesi Selatan sebagai dewa penjajah. Ia telah menjelajahi seluruh kawasan Asia dan bermarkas di puncak Himalaya. Kira-kira satu abad sebelum Masehi Batara Guru menuju ke Cerekang Malili dan membawa empat kasta. Keempat kasta tersebut adalah kasta Puang, kasta Pampawa Opu, kasta Attana Lang, dan kasta orang kebanyakan.
Selian itu Batara Guru juga dipercaya membawa enam macam bahasa. Keenam bahasa tersebut dipergunakan di daerah-daerah jajahannya. Keenam bahasa itu adalah:
Di antara kepercayaan sebagian penduduk Sulawesi Selatan adalah Aluk To Dolo oleh orang Toraja. Sebelum masuknya agama Islam sebagian penduduk Sulawesi Selatan telah mempercayai terhadap sesuatu yang Maha Pencipta, pengatur segenap alam. Mereka menyebutnya dengan “Puang Matua”. Pemimpin Aluk To Dolo disebut Burako memimpin dua aluk yaitu Aluk Mata Allo dan Aluk Mata Ampu. Kedua aluk tersebut merupakan cara pengaturan jagad raya. Aluk Mata Allo dianut oleh penduduk Tana Toraja bagian Timur dengan tatacara upacara keagamaan dan kemasyarakatan bercorak aristokratis. Sedangkan Aluk Mata Ampu dianut oleh masyarakat Tana Toraja bagian Barat dengan tata upacara keagamaan kemasyarkatan yang bercorak kerakyatan. Pelaksanaan aluk-aluk tersebut yang mengilhami kebudayaan masyarakat Tana Toraja dalam aspek rohaniah, fisik dan tingkah lakunya.
Pada zaman dahulu, masyarakat Tana Toraja mengenal empat puluh persekutuan adat yang dikenal dengan “Arruan Patampulo”. Keempat puluh persekutuan tersebut tergabung dalam daerah persekutuan yang disebut dengan “Lampangan Bulan” . Wilayahnya adalah meliputi Tana Toraja dan sekitarnya. Menurut Dr. Noorduyn bahwa persekutuan inilah yang merupakan masyarakat asli Sulawesi Selatan. Keberadaan mendahului priode Galigo dan priode Lontara yang mengadabtasi berbagai unsur kepercayaan dan kebudayan dari luar Sulawesi Selatan. Kepercayaan Aluk To Dolo masih dipercayai oleh banyak orang Toraja dewasa ini dengan bentuk-bentuk persekutuan kaum dalam lingkup-lingkup keluarga yang disebut Tongkonan. Ciri khas kepercayaannya yang dianut sejak dulu masih eksis dalam prilaku keagamaan dan adat masyarakat Toraja saat ini.
Misteri makna dari sistem kepercayaan itu sampai saat ini belum diungkap secara memuaskan. Dari hasil pengamatan sementara, dapat dikatakan bahwa ketuhanan Aluk To Dolo bersifat monoteistik dan tidak mengenal hirach dewa-dewa. Puan Matua sebagai pencipta segala sesuatu, memberi berbagai aluk untuk tata tertib dalam kehidupan dunia. Puan Matua itu sendiri dapat dipahami penyataannya melalui penyelenggaraan berbagai macam upacara aluk yang dilakukan oleh orang-orang yang masih hidup dalam rangka hubungan yang tetap dengan dunia roh-roh yang terdapat dalam dunia ini. (Noorduyn, 1964).
Sisa-sisa kepercayaan yang mirip dengan kepercayaan Aluk To Dolo masih terdapat diberbagai tempat di daerah Sulawesi Selatan. Hal itu dapat tampak dengan jelas di Tana Toa Kajang (Kabupaten Bulukumba) dan di Onto, pegunungan terpencil di Camba dan Barru. Kepercayaan mereka dikenal oleh masyarakat luar dengan agama Patuntung. Agama Patuntung mempercayai adanya sesuatu yang Maha Kuasa, MahaTunggal dengan berbagai nama. Ada yang menamakannya Turia a’rana (yang berkehendak) dan sebagainya. Agama Patuntung dipercayai oleh persekutuan dan dipimpin oleh seorang yang mereka telah mendapat petunjuk dari Yang Maha Kuasa dengan tanda-tanda tentang adanya sesuatu kelebihan di dalam kehidupannya. Oleh karena itu, Dia dipilih untuk memimpin kaum dan sekaligus menjadi pemimpin agama. Kaum menghormatinya sebagai makhluk yang suci ditaati segala kehendaknya.
Saat ini penganut agama Patuntung sudah mendapat pengaruh dari luar. Penganut agama Patuntung yang dikenal sejak dahulu lebih memilih hidup memencilkan diri di daerah-daerah yang sukar dikunjungi oleh orang luar. Namun saat ini kebudayaan dari luar juga sempat mempengaruhi kebudayaan mereka. Hal ini dapat dilihat pada penyataan-pernyataan ritual mereka yang tergambar keadaan sikritisme. Tampak dalam unsur kepercayaannya telah dipengaruhi oleh kepercayaan yang mirip dengan kepercayaan agama Budha dan Islam. Pada umumnya agama Patuntung berpakaian yang berwarna gelap yaitu hitam atau biru tua.
Selain kepercayaan Aluk To Dolo masih terdapat kepercayaan yang dianut oleh sebagian masyarakat Sulawesi Selatan, yaitu agama Towani Tolotang. Agama Towani Tolotang dianut oleh sebagian masyarakat Sindenreng Rappang, terutama di beberapa bagian pedalaman. Agama tersebut merupakan suatu kepercayaan yang mempercayai adanya kekuasaan alam yang tinggi yang mereka namai To PalanroE (orang yang mencipta), Dewa SeuwaE (Dewa yang tunggal). Dalam perurutan nama-nama yang mengandung aspek-aspek kedewaan terdapat nama Batara Guru, Sawerigading, Galigo dan sebagainya.
Mereka mempercayai sebuah kitab suci, namanya Mitologi Galigo. Mereka menganggap ajaran dalam kitab ini sebagai jalan kebenaran yang tinggi, dan disitulah mereka mengambil pedoman tentang tata cara hidup kemasyarakatan seperti perkawinan di antara mereka, termasuk upacara dalam hidup keagamaan mereka lakukan dengan sangat ketat. Pada zaman dahulu orang Bugis tidak menguburkan mayat mereka, akan tetapi dibakar dan hasil pembakarannya dimasukkan ke dalam guci. Tentang pembakarannya mayat tersebut ada hubungannya dengan kepercayaan agama Tolotang atau Toani yang diduga asalnya dari Ware Luku sebagai tempat asal Mitologi Galigo.
Abu Hamid, 1982, Selayang Pandang, Uraian Tentang Islam dan Kebudayaan (dalam buku Bugis Makassar Dalam Peta Islamisasi Indoensia), Ujung Pandang, IAIN.
Abd. Kadir Ahmad, 2004, Masuknya Islam di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Ternggara, Makassar, Balai Litbang Agama Makassar.
Mattuladda, 1974. Bugis Makassar, Manusia dan Kebudayaan. Makassar. Berita Antropologi No. 16 Fakultas Sastra UNHAS.
————, 1975. Latoa, Suatu Lukisan Analitis Antropologi Politik Orang Bugis., Makassar: Disertasi.
Sumber : https://telukbone.id/2013/01/06/kepercayaan-bugis-sebelum-islam/
Istilah Dewata SeuwaE itu dalam aksara lontara, dibaca dengan berbagai macam ucapan, misalnya : Dewata, Dewangta, dan Dewatangna yang mana mencerminkan sifat dan esensi Tuhan dalam pandangan teologi orang Bugis. De’watangna berarti “yang tidak punya wujud”, “De’watangna” atau “De’batang” berarti yang tidak bertubuh atau yang tidak mempunyai wujud. De’ artinya tidak, sedangkan watang (batang) berarti tubuh atau wujud. “Naiyya Dewata SeuwaE Tekkeinnang”, artinya “Adapun Tuhan Yang Maha Esa itu tidak beribu dan tidak berayah”. Sedang dalam Lontara Sangkuru’ Patau’ Mulajaji sering juga digunakan istilah “Puang SeuwaE To PalanroE”, yaitu Tuhan Yang Maha Esa, Sang Pencipta. Istilah lain, “Puang MappancajiE”. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Konsep “Dewata SeuwaE” merupakan nama Tuhan yang dikenal etnik Bugis–Makassar. (Abidin, 1979 : 12 dan 59).
Kepercayaan orang Bugis kepada “Dewata SeuwaE” dan “PatotoE” serta kepercayaan “Patuntung” orang Makassar sampai saat ini masih ada saja bekas-bekasnya dalam bentuk tradisi dan upacara adat. Kedua kepercayaan asli tersebut mempunyai konsep tentang alam semesta yang diyakini oleh masyarakat pendukungnya terdiri atas tiga dunia, yaitu dunia atas (boting langi), dunia tengah (lino atau ale kawa) yang didiami manusia, dan dunia bawah (peretiwi). Tiap-tiap dunia mempunyai penghuni masing-masing yang satu sama lain saling mempengaruhi dan pengaruh itu berakibat pula terhadap kelangsungan kehidupan manusia. Untuk mengetahui lebih jauh tentang kepercayaan Patuntung, lihat : Martin Rossler, “Striving for Modesty : Fundamentals of The Religion and Social Organization of The Makassarese Patuntung”, dalam BKI deel 146 2 en 3 en aflevering, 1990 : 289 – 324 dan WA Penard, “De Patoentoeng” dalam TBG deel LV, 1913 : 515 – 54.
Gervaise dalam “Description Historique du Royaume de Macacar” sebagaimana dikutip Pelras (1981 : 168) memberikan uraian tentang agama tua di Makassar. Menurut Gervaise orang-orang Makassar zaman dahulu menyembah Dewa Matahari dan Dewa Bulan yang disembah pada waktu terbit dan terbenamnya Matahari atau pada saat Bulan tampak pada malam hari. Mereka tidak mempunyai rumah suci atau kuil. Upacara sembahyang dan Kurban–kurban (Bugis : karoba) khususnya diadakan di tempat terbuka. Matahari dan Bulan diberi kedudukan yang penting pada hari-hari “kurban” (esso akkarobang) yang selalu ditetapkan pada waktu Bulan Purnama dan pada waktu Bulan mati, karena itu pada beberapa tempat yang sesuai disimpan lambang-lambang Matahari dan Bulan. Tempat ini dibuat dari tembikar, tembaga, bahkan juga dari emas (Pelras, 1981 : 169).
Selain menganggap Matahari dan Bulan itu sebagai Dewa, orang Bugis Makassar pra-Islam juga melakukan pemujaan terhadap kalompoang atau arajang. Kata “Arajang” bagi orang Bugis atau “Kalompoang” atau “Gaukang” bagi orang Makassar berarti kebesaran. Yang dimaksudkan ialah benda-benda yang dianggap sakti, keramat dan memiliki nilai magis. Benda-benda tersebut adalah milik raja yang berkuasa atau yang memerintah dalam negeri. Benda-benda tersebut berwujud tombak, keris, badik, perisai, payung, patung dari emas dan perak, kalung, piring, jala ikan, gulungan rambut, dan lain sebagainya. (Martinus Nijhoff, 1929, 365-366).
_________________________________________________________
KEPERCAYAAN BUGIS ANTARA ISLAM DAN TO LOTANG
Rasanya, hampir semua orang bila mendengar nama bugis pikirannya langsung tertuju pada salah satu makanan khas Indonesia berbahan dasar tepung ketan dengan isian kelapa dan gula di dalamnya. Namun, Bugis juga merupakan nama sebuah suku yang ada di Indonesia.
Suku Bugis adalah masyarakat asli dari Provinsi Sulawesi Selatan. Jumlah masyarakat suku Bugis di tahun 2000 mencapai angka enam juta jiwa. Suku Bugis tersebar di beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan, seperti Kabupaten Luwu, Bone, Wajo, Pinrang, Barru, dan Sidrap. Salah satu ciri khasnya adalah sistem kepercayaan suku Bugis.
Sistem Kepercayaan Agama Islam
Masyarakat suku Bugis dengan segala kebudayaan dan adat istiadat juga memiliki sistem kepercayaan. Kepercayaan suku Bugis yang banyak dianut sejak abad ke-17 adalah Islam. Islam dibawa oleh para pesyiar dari daerah Minangkabau.
Para pesyiar tersebut membagi wilayah penyebaran agama Islam menjadi tiga wilayah. Di wilayah Gowa dan Tallo, penyiar yang ditugaskan adalah Abdul Makmur. Di wilayah Luwu, yang diperintahkan untuk menyiarkan ajaran Islam adalah Suleiman. Untuk wilayah Bulukumba, Nurdin Ariyani yang ditugaskan untuk bersyiar.
Sistem Kepercayaan To Lotang
Selain Islam, kepercayaan suku Bugis lainnya adalah sistem kepercayaan To Lotang. Sistem kepercayaan To Lotang memiliki penganut sebanyak 15 ribu jiwa. Masyarakat yang menganut sistem kepercayaan To Lotang tinggal di wilayah Amparita, Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Sidenreng Rappang.
Sistem kepercayaan To Lotang didirikan oleh La Panaungi. Kepercayaan ini ada karena pendirinya mendapatkan ilham dari Sawerigading. Sawerigading adalah jenis kepercayaan yang memuja Dewata SawwaE.
Kitab suci bagi penganut sistem kepercayaan ini adalah La Galigo. Isi yang terkandung dalam kitab tersebut diamalkan turun-menurun secara lisan dari seorang uwak atau tokoh agama kepada para pengikutnya.
Sistem kepercayaan ini memiliki tujuh orang tokoh agama, yang diketuai oleh seorang Uwak Battoa. Sementara itu, tokoh agama yang lain mengurusi hal-hal mengenai masalah sosial, usaha tanam, dan penyelenggaraan upacara ritual.
To Lotang menurut bahasa Bugis artinya adalah ‘orang selatan’. Zaman dulu, masyarakat ini sering mengungsi dari satu daerah ke daerah lain di Sulawesi Selatan. Setelah berkali-kali mengungsi, pada 1609, masyarakat dengan sistem kepercayaan ini menetap di Amparita berkat perintah dari Raja Sidendreng.
Suku Bugis memiliki beberapa kerajaan, di antaranya Kerajaan Wajo, Kerajaan Soppeng, Kerajaan Makassar, dan Kerajaan Bone. Kerajaan yang terdapat di sekitar suku Bugis sering mengalami konflik. Biasanya, konflik di antara mereka terjadi akibat perebutan daerah kekuasaan.
_______________________
Telah dibahas dalam artikel yang lalu bahwa suku Bugis adalah suku yang mendiami daerah Sulawesi Selatan. Namun karena akar suku Bugis adalah Melayu dan Minangkabau, maka kegiatan merantau tidak dapat dipisahkan dari suku ini. Maka tidak heran jika suku Bugis tersebar di berbagai wilayah di Nusantara ini. Menurut sensus penduduk pada tahun 2000, masyarakat Bugis jumlahnya mencapai enam juta jiwa. Suku Bugis yang ada di Indonesia mayorita mendiami Sulawesi Selatan, yang mencakup kabupaten Luwu, Bone, Wajo, Barru, Pinrang dan Sidrap.
Kepercayaan masyarakat Bugis
Selain memiliki adat istiadat masa lalu yang erat kaitannya dengan animisme dan dinamisme atau penyembahan roh dan berhala, namun ada juga sistem kepercayaan masyarakat Bugis. Pada umumnya sistem kepercayaan suku Bugis terbagi menjadi dua, yakni sistem kepercayaan To Lotang dan Agama Islam. Kami akan membahas keduanya satu persatu.
Sistem Kepercayaan To Lotang
To Lotang dalam bahasa Bugis artinya “orang selatan”. Kepercayaan To Lotang adalah kepercayaan yang menyembah Dewata SawwaE sebagai Tuhan. Kepercayaan ini ada dikarenakan pendirinya mendapatkan ilham dari Sawerigading. Sawerigading inilah yang pertama kali memuja Dewata SawwaE. Sistem kepercayaan ini memiliki penganut kurang lebih 15 ribu jiwa. Persebaran masyarakat yang menganut sistem kepercayaan ini ada di wilayah Amparita, Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Sindendreng Rappang.
Kepercayaan ini memiiki sebuah kita suci yang diberi nama La Galigo. Isi yang ada dalam kitab ini diamalkan secara turun temurun dan ditularkan secara lisan oleh uwak atau tokoh agama kepada para pengikutnya. Dalam sistem kepercayaan ini ada tujuh tokoh agama yang diketuai oleh soerang Uwak Battoa. Dari tujuh tokoh agama tersebut, enam tokoh diantaranya mengurusi permasalahan seperti masalah sosial, usaha tanam dan penyelenggaraan ritual kepercayaan. Pada zaman dulu, masyarakat ini sering mengungsi ke daerah lain di Sumatera Selatan, namun pada tahun 1609, masyarakat ini diberikan tempat oleh Rja Sindendreng di Amparita hingga saat ini.
Agama Islam dalam masyarakat Bugis
Agama yang dianut oleh mayoritas masyarakat Bugis sejak abad ke-17 adalah Islam. Adalah masyarakat Minangkabau yang membawa Islam ke tanah Bugis, utamanya pada da’i dari daerah Sumatera Barat. Pesyiar atau para da’i membagi wilayah penyebaran Islam dalam tiga wilayah yang berbeda. Ada Abdul Makmur yang ditugaskan untuk menyiarkan Agama Islam di tanah Gowa dan Tallo. Suleiman diperintah untuk mengajarkan Islam di daerah Luwu, sedangkan untuk daerah Bulukumba, Nurdin Ariyani terpilih untuk bersyiar disana.
Pada masa itu suku Bugis memiliki banyak kerajaan, diantaranya Wajo, Soppeng, Makassar dan Bone. Hal ini mengakibatkan seringnya terjadi konflik di masa lalu yang umumnya dipicu oleh perebutan daerah kekuasaan dan sumber daya alam. Pada masa itu Islam datang yang memicu kebesaran kerajaan Gowa dan Tallo untuk menyingkirkan konflik yang ada. Kerajaan inilah yang menghasilkan pahlawan terkenal, Sultan Hasanudin.
_____________________________ Kepercayaan Masyarakat Bugis Terhadap Sawerigading
Dengan adanya kisah yang unik mengenai Sawerigading, maka muncullah berbagai kepercayaan bagi masyarakat Bugis, khususnya yang berkenaan dengan aspek religius.
Menurut kepercayaan sebagian masyarakat Bugis, Sawerigading memiliki kekuatan supranatural, karena ia merupakan keturunan dewa (to manurung). Bahkan ada yang menganggapnya sebagai Nabi yang diturunkan ke bumi.
Dari kisah perjalanan Sawerigading ke berbagai negara, muncul anggapan bahwa ia pernah bertemu dengan Nabi Muhammad. Dalam pertemuannya itu, ia sempat melakukan diskusi dan mengadakan adu ketangkasan. Dalam adu ketangkasan itu, sempat draw (seri) sebanyak dua kali, dan barulah pada pertandingan terakhir, Sawerigading mengakui kehebatan Nabi Muhammad.
Menurut kepercayaan tersebut, Sawerigading mempunyai ajaran yang mirip dengan ajaran Islam, yaitu salat dan naik haji. Perbedaannya hanya dari segi pelaksanaannya, yaitu salatnya hanya melalui batinnya. Selain itu, Sawerigading menganjurkan anak cucunya untuk mengunjungi Mekah, karena di sisi Ka’bah terdapat nama Sawerigading.
Bahkan ada paham yang berkembang bahwa mengunjungi puncak gunung Pensemeuni, di tepi Sungai Cerekang (Malili), sama halnya dengan menunaikan ibadah haji. Sebab, di tempat itulah turunnya Batara Guru ke dunia.
Yang lebih unik lagi adalah kepercayaan masyarakat Towani-Tolotang yang ada di Kabupaten Sidrap. Mereka beranggapan bahwa Sawerigading kembali ke Mekah dan mendampingi Nabi Muhammad dalam setiap pertempuran. Di tangan Sawerigading terdapat satu juz al-Quran, yang belum ikut terkodifikasikan bersama 30 juz lainnya. Karenanya, mereka tidak mengakui keberadaan al-Quran mushaf Usmani, karena belum lengkap. Sampai sekarang, mereka tetap menunggu kedatangan Sawerigading untuk membawa 1 juz al-Quran itu kepadanya.
Referensi Makalah®
Kepustakaan:
Sarita Pawiloi, Sejarah Pendidikan di Sulawesi Selatan, Jakarta : IDKD Depdikbud, 1982. H.D.Mangemba, Sawerigading ke Cina, Ujungpandang : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Sulawesi Selatan, 1987. Sumange Alam Tjahra, Beberapa Pandangan tentang Isi Sure’ I La Galigo, Ujungpandang : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1987
________________________________________
Kepercayaan Bugis, Makassar, Mandar. dan Toraja sebelum Islam
Sejak dahulu, masyarakat Sulawesi Selatan telah memiliki aturan tata hidup. Aturan tata hidup tersebut berkenaan dengan, sistem pemerintahan, sistem kemasyarakatan dan sistem kepecayaan. Orang Bugis menyebut keseluruhan sistem tersebut Pangngadereng, orang Makassar Pangadakang, Orang Luwu menyebutnya Pangngadaran, Orang Toraja Aluk To Dolo dan Orang Mandar Ada’.
Dalam hal kepercayaan penduduk Sulawesi Selatan telah percaya kepada satu Dewa yang tunggal. Dewa yang tunggal itu disebut dengan istilah Dewata SeuwaE (dewa yang tunggal). Terkadang pula disebut oleh orang Bugis dengan istilah PatotoE (dewa yang menentukan nasib). Orang Makassar sering menyebutnya dengan Turei A’rana (kehendak yang tinggi). Orang Mandar Puang Mase (yang maha kedendak) dan orang Toraja menyebutnya Puang Matua (Tuhan yang maha mulia).
Mereka pula mempercayai adanya dewa yang bertahta di tempat-tempat tertentu. Seperti kepercayaan mereka tentang dewa yang berdiam di Gunung Latimojong. Dewa tersebut mereka sebut dengan nama Dewata Mattanrue. Dihikayatkan bahwa dewa tersebut kawin dengan Enyi’li’timo’ kemudian melahirkan PatotoE. Dewa PatotoE kemudian kawin dengan Palingo dan melahirkan Batara Guru.
Batara Guru dipercaya oleh sebagian masyarakat Sulawesi Selatan sebagai dewa penjajah. Ia telah menjelajahi seluruh kawasan Asia dan bermarkas di puncak Himalaya. Kira-kira satu abad sebelum Masehi Batara Guru menuju ke Cerekang Malili dan membawa empat kasta. Keempat kasta tersebut adalah kasta Puang, kasta Pampawa Opu, kasta Attana Lang, dan kasta orang kebanyakan.
Selian itu Batara Guru juga dipercaya membawa enam macam bahasa. Keenam bahasa tersebut dipergunakan di daerah-daerah jajahannya. Keenam bahasa itu adalah:
- Bahasa TaE atau To’da. Bahasa ini dipergunakan masyarakat yang bermukim di wilayah Tana Toraja , Massenrengpulu dan sekitarnya. Mereka dibekali dengan kesenian yang bernama Gellu’.
- Bahasa Bare’E. Bahasa ini dipergunakan oleh masyarakat yang bermukim di wilayah Poso Sulawesi Tengah. Mereka dibekali dengan kesenian yang disebutnya Menari.
- Bahasa Mengkokak, bahasa ini dipergunakan oleh masyarakat yang bermukim di wilayah Kolaka dan Kendari Sulawesi Tenggara. Mereka pula dibekali dengan kesenian, yang namanya Lulo’.
- Bahasa Bugisi. Bahasa ini dipergunakan oleh masyarakat yang bermukim di Wajo seluruh daerah disekitarnya dan dibekali dengan kesenian Pajjaga.
- Bahasa Mandar. Bahasa ini dipergunakakan oleh masyarakat yang berdiam di wilayah Mandar dan sekitarnya. Mereka dibekai dengan kesenian Pattundu.
- Bahasa Tona. Bahasa ini dipergunakan oleh masyarakat yang bermukim di wilayah Makassar dan sekitarnya. Mereka dibekali dengan kesenian dan sebutnya Pakkarena.
- Mereka menduduki tempat-tempat yang strategis seperti puncak-puncak
gunung. Beberapa gunung yang mereka jadikan tempat strategis adalah
sebagai berikut:
Dipuncak Gunung Latimojong. Mereka menyebut Puang ri Latimojong dengan gelar Puang Ma’tinduk Gallang, Puang Ma’taro Bessi, Dewata Kalandona Buntu, Puang Lajukna Tanete. - Dipuncak Gunung Nonaji. Mereka mengelari Puang ri Sinaji dengan Dewata Mararang Ulunna, Maea Pa’barusunna, Borrong Lise’matanna.
- Di puncak Gunung A’do, dengan nama Puang Tontoria’do’.
- Di tasik Mengkombong dengan nama Londong di Langi
- Di Napo’ (Dende’) dinamakan Datue ri Naopo.
Di antara kepercayaan sebagian penduduk Sulawesi Selatan adalah Aluk To Dolo oleh orang Toraja. Sebelum masuknya agama Islam sebagian penduduk Sulawesi Selatan telah mempercayai terhadap sesuatu yang Maha Pencipta, pengatur segenap alam. Mereka menyebutnya dengan “Puang Matua”. Pemimpin Aluk To Dolo disebut Burako memimpin dua aluk yaitu Aluk Mata Allo dan Aluk Mata Ampu. Kedua aluk tersebut merupakan cara pengaturan jagad raya. Aluk Mata Allo dianut oleh penduduk Tana Toraja bagian Timur dengan tatacara upacara keagamaan dan kemasyarakatan bercorak aristokratis. Sedangkan Aluk Mata Ampu dianut oleh masyarakat Tana Toraja bagian Barat dengan tata upacara keagamaan kemasyarkatan yang bercorak kerakyatan. Pelaksanaan aluk-aluk tersebut yang mengilhami kebudayaan masyarakat Tana Toraja dalam aspek rohaniah, fisik dan tingkah lakunya.
Pada zaman dahulu, masyarakat Tana Toraja mengenal empat puluh persekutuan adat yang dikenal dengan “Arruan Patampulo”. Keempat puluh persekutuan tersebut tergabung dalam daerah persekutuan yang disebut dengan “Lampangan Bulan” . Wilayahnya adalah meliputi Tana Toraja dan sekitarnya. Menurut Dr. Noorduyn bahwa persekutuan inilah yang merupakan masyarakat asli Sulawesi Selatan. Keberadaan mendahului priode Galigo dan priode Lontara yang mengadabtasi berbagai unsur kepercayaan dan kebudayan dari luar Sulawesi Selatan. Kepercayaan Aluk To Dolo masih dipercayai oleh banyak orang Toraja dewasa ini dengan bentuk-bentuk persekutuan kaum dalam lingkup-lingkup keluarga yang disebut Tongkonan. Ciri khas kepercayaannya yang dianut sejak dulu masih eksis dalam prilaku keagamaan dan adat masyarakat Toraja saat ini.
Misteri makna dari sistem kepercayaan itu sampai saat ini belum diungkap secara memuaskan. Dari hasil pengamatan sementara, dapat dikatakan bahwa ketuhanan Aluk To Dolo bersifat monoteistik dan tidak mengenal hirach dewa-dewa. Puan Matua sebagai pencipta segala sesuatu, memberi berbagai aluk untuk tata tertib dalam kehidupan dunia. Puan Matua itu sendiri dapat dipahami penyataannya melalui penyelenggaraan berbagai macam upacara aluk yang dilakukan oleh orang-orang yang masih hidup dalam rangka hubungan yang tetap dengan dunia roh-roh yang terdapat dalam dunia ini. (Noorduyn, 1964).
Sisa-sisa kepercayaan yang mirip dengan kepercayaan Aluk To Dolo masih terdapat diberbagai tempat di daerah Sulawesi Selatan. Hal itu dapat tampak dengan jelas di Tana Toa Kajang (Kabupaten Bulukumba) dan di Onto, pegunungan terpencil di Camba dan Barru. Kepercayaan mereka dikenal oleh masyarakat luar dengan agama Patuntung. Agama Patuntung mempercayai adanya sesuatu yang Maha Kuasa, MahaTunggal dengan berbagai nama. Ada yang menamakannya Turia a’rana (yang berkehendak) dan sebagainya. Agama Patuntung dipercayai oleh persekutuan dan dipimpin oleh seorang yang mereka telah mendapat petunjuk dari Yang Maha Kuasa dengan tanda-tanda tentang adanya sesuatu kelebihan di dalam kehidupannya. Oleh karena itu, Dia dipilih untuk memimpin kaum dan sekaligus menjadi pemimpin agama. Kaum menghormatinya sebagai makhluk yang suci ditaati segala kehendaknya.
Saat ini penganut agama Patuntung sudah mendapat pengaruh dari luar. Penganut agama Patuntung yang dikenal sejak dahulu lebih memilih hidup memencilkan diri di daerah-daerah yang sukar dikunjungi oleh orang luar. Namun saat ini kebudayaan dari luar juga sempat mempengaruhi kebudayaan mereka. Hal ini dapat dilihat pada penyataan-pernyataan ritual mereka yang tergambar keadaan sikritisme. Tampak dalam unsur kepercayaannya telah dipengaruhi oleh kepercayaan yang mirip dengan kepercayaan agama Budha dan Islam. Pada umumnya agama Patuntung berpakaian yang berwarna gelap yaitu hitam atau biru tua.
Selain kepercayaan Aluk To Dolo masih terdapat kepercayaan yang dianut oleh sebagian masyarakat Sulawesi Selatan, yaitu agama Towani Tolotang. Agama Towani Tolotang dianut oleh sebagian masyarakat Sindenreng Rappang, terutama di beberapa bagian pedalaman. Agama tersebut merupakan suatu kepercayaan yang mempercayai adanya kekuasaan alam yang tinggi yang mereka namai To PalanroE (orang yang mencipta), Dewa SeuwaE (Dewa yang tunggal). Dalam perurutan nama-nama yang mengandung aspek-aspek kedewaan terdapat nama Batara Guru, Sawerigading, Galigo dan sebagainya.
Mereka mempercayai sebuah kitab suci, namanya Mitologi Galigo. Mereka menganggap ajaran dalam kitab ini sebagai jalan kebenaran yang tinggi, dan disitulah mereka mengambil pedoman tentang tata cara hidup kemasyarakatan seperti perkawinan di antara mereka, termasuk upacara dalam hidup keagamaan mereka lakukan dengan sangat ketat. Pada zaman dahulu orang Bugis tidak menguburkan mayat mereka, akan tetapi dibakar dan hasil pembakarannya dimasukkan ke dalam guci. Tentang pembakarannya mayat tersebut ada hubungannya dengan kepercayaan agama Tolotang atau Toani yang diduga asalnya dari Ware Luku sebagai tempat asal Mitologi Galigo.
Abu Hamid, 1982, Selayang Pandang, Uraian Tentang Islam dan Kebudayaan (dalam buku Bugis Makassar Dalam Peta Islamisasi Indoensia), Ujung Pandang, IAIN.
Abd. Kadir Ahmad, 2004, Masuknya Islam di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Ternggara, Makassar, Balai Litbang Agama Makassar.
Mattuladda, 1974. Bugis Makassar, Manusia dan Kebudayaan. Makassar. Berita Antropologi No. 16 Fakultas Sastra UNHAS.
————, 1975. Latoa, Suatu Lukisan Analitis Antropologi Politik Orang Bugis., Makassar: Disertasi.
Sumber : https://telukbone.id/2013/01/06/kepercayaan-bugis-sebelum-islam/
Kepercayaan Bugis Sebelum Islam
Unknown
14.01
Budaya dan masyarakat adalah sesuatu tak terpisahkan, karena budaya
lahir dari masyarakat. Budaya dapat diartikan sebagai segala daya upaya
manusia untuk memenuhi keperluan hidup, baik rohani maupun jasmani.
Kebudayaan diperoleh manusia melalui pembelajaran dan menjadi milik masyarakat yang menjalankannya.
Kebudayaan terbagi dua macam, yaitu, pertama kebudayaan dalam arti
luas, misalnya di bidang ekonomi, sains dan teknologi, pertanian, sosial
dan kepercayaan. Kedua, kebudayaan dalam arti sempit, misalnya di
bidang karya sastra, seni musik, seni tari, seni lukis, dan seni patung.
Karya seni sastra dengan karya seni lainnya memiliki persamaan dan
perbedaan. Persamaannya adalah karya seni sastra dan karya seni lainnya
sama-sama memiliki nilai seni atau nilai keindahan.
Perbedaannya adalah pencipta karya sastra disebut sastrawan dan pencipta karya seni lainnya disebut seniman. Karya sastra dikomunikasikan dengan bahasa sedankan karya seni lainnya, seperti seni musik dikomunikasikan dengan suara, seni tari dengan gerak, seni lukis dengan warna dan garis, seni patung dengan bentuk.
Karya seni sastra, merupakan hasil dan milik masyarakat. Karya sastra
adalah gambaran dan pancaran jiwa masyarakat. Misalnya manusia sebagai
makhluk sosial, hubungan kekerabatan, strata sosial, dan lain-lain.
Masing-masing daerah mempunyai kebudayaan sendiri-sendiri dan
memiliki berbagai bentuk kesenian serta berfungsi secara khusus untuk
masyarakat yang menciptakannya. Seperti daerah dan suku lainnya di
Nusantara, suku Bugis juga memiliki karya seni sastra misalnya dalam
hubungan kekerabatan.
Sastra Bugis masih sering kita dengar dalam acara adat pernikahan
bertujuan untuk menambah semarak suasana pesta. Lantunan syair-syair itu
diucapkan dengan saling berbalas syair antara orang-orang tua dari
kedua mempelai. Bila salah satu pihak tidak mampu membalasnya, maka
gelak tawa akan meledak, sehingga riuh rendahlah acara tersebut.
Berikut beberapa syair gubahan orang Bugis seringkali mengandung makna yang terselubung yang bersifat puitis.
- Dega pasa ri lipumu mulinco mabela? (Tak adakah pasar di negerimu maka engkau mengembara jauh?)
- Engka pasa ri lipuku nyawami kusappa
(Ada pasar di negeriku hanya budi yang kucari) - Rekko maruddaniki congaki ri ketengnge tasidduppa mata
(Bila engkau rindu tengadahlah ke bulan kita kan bertemu pandang) -
Temmasiri kajompie,tennia iyya taro jelle’ naiya makkalu
(Tak bermalu si kacang panjang, bukan ia memasang jenjangan tetapi dia yang melingkar) -
Duai kuwala sappo, unganna panasae, belona kanukue
(Dua yang kujadikan pagar, bunganya nangka, hiasannya kuku) -
Ia teppaja kusappa, rapanna rialae palangga mariang
(Yang selalu kucari, bagai yang dijadikan penopang meriam) -
Nyili’ka buaja bulu, patompang aje tedong, kusala ri majeng
(Kulihat buaya gunung, bekas tapak kerbau, aku tersalah ingatan) -
Mapanre ritu jennang, paka ati goari, to mate nasuro
(Pandai benar orang itu, berhati bilik, orang mati yang disuruh) -
Makkepannipi bojoe, menrenre’pi kua dongi, kunappa massappa
(Kalau siput telah bersayap, terbang bagai burung pipit, baru aku merindukanmu - Gellang ri watang majjekkoe, inanrena Menre’E, bali ulunna bale
(kawat dibentuk membengkok, makanan orang Mandar,lawan dari kepala ikan) -
Maputei bulunna kaoe, kutea melle, nakusala ri majeng
(Memutih bulu burung gagak, aku tak berpaling, kutersalah ingatan) - Purana elo mutea, nabukeni wae mata, mole bukku toni
(Sudah aku mau, banjir air mata, biar tegak tetap jadi bengkok)
Itulah contoh syair-syair yang turut memperkaya khasanah sastra Bugis dan tentunya masih banyak contoh-contoh lainnya.
Sumber : https://telukbone.id/2018/09/15/indahnya-sastra-bugis/
Indahnya Sastra Bugis
Unknown
06.05
Unknown
06.05


